Pertanyaan:
- Jika
surat al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat, dari bacaan bismillah dan
seterusnya, bukankah seharusnya bacaan basmalah tidak disirrikan,
bahkan harusnya dijahrkan sama seperti ayat-ayat berikutnya ketika
kita baca jahr dalam shalat? Sebagai anggota Muhammadiyah saya
perlu memahaminya, karena orang-orang Muhammadiyah sendiri lebih banyak
yang membaca surat al-Fatihah dalam shalatnya tanpa menjahrkan
bahkan ada yang tidak memulainya dengan bismillahirrahmanirrahim.
(Marsa’id, S.Pd.I.)
- Manakah
yang benar, bacaan basmalah dalam surat al-Fatihah ketika mengerjakan
shalat dibaca jahr atau sirr? Di daerah kami masih sering
warga Muhammadiyah bertanya-tanya dan terkadang saling menyalahkan.
(Ridwan, 08153246xxxx)
Pertanyaan Dari:
1. Marsa’id, S.Pd.I., Anggota Muhammadiyah Cabang Watukebo, Jember, Jawa Timur
2. Ridwan, 08153246xxxx, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Baturaja Sumatera
Selatan
(disidangkan pada Jum’at, 7 Zulhijjah 1429 H / 5 November 2008 M)
Jawaban:
Kedua pertanyaan dari dua orang penanya di atas akan kami
jawab sekaligus dalam satu rangkaian jawaban. Namun, sebelumnya perlu diketahui
bahwa masalah bacaan basmalah dalam surat al-Fatihah yang dibaca ketika
mengerjakan shalat telah beberapa kali ditanyakan oleh penanya sebelumnya dan
telah pula kami jawab dan dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah. Di antaranya
yang telah diterbitkan dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 terbitan Suara
Muhammadiyah Cetakan VI tahun 2003 halaman 53-54 dan Tanya Jawab Agama Jilid 4
Cetakan III halaman 82-89. Tetapi ada baiknya pada kesempatan kali ini kami
jelaskan kembali secara singkat jawaban tentang persoalan tersebut.
Pendapat Para Ulama tentang Bacaan Basmalah dalam Shalat
Para ulama berbeda pendapat mengenai bacaan basmalah dalam
shalat:
- Imam
Malik melarang membacanya dalam shalat fardlu, baik secara jahr
(keras) maupun secara sirr (lembut), baik dalam membuka al-Fatihah
maupun dalam surat lainnya, tetapi beliau membolehkan membacanya dalam
shalat nafilah (sunnah)
- Imam
Abu Hanifah mengharuskan membacanya ketika membaca al-Fatihah dalam shalat
secara sirr (lembut) pada setiap rakaat, dan lebih baik membacanya
ketika membaca setiap surat.
- Imam
asy-Syafi‘i berpendapat wajib membacanya dalam shalat secara jahr
(keras) dalam shalat jahr, tetapi dalam shalat sirri wajib
dibaca dengan sirri.
- Imam
Ahmad Ibnu Hanbal berpendapat harus membacanya dengan sirri dalam
shalat dan tidak mensunnahkan membacanya dengan jahr.
Sumber perbedaan pendapat tersebut adalah karena perbedaan
pendapat mengenai status basmalah, apakah ia termasuk surat al-Fatihah, dan
termasuk permulaan tiap-tiap surat atau tidak. Secara ringkas, perbedaan
pendapat tersebut dapat kami uraikan sebagai berikut:
- Asy-Syafi‘iyyah
berpendapat bahwa basmalah adalah salah satu ayat dari surat al-Fatihah
dan merupakan awal dari setiap surat dalam al-Qur’an.
- Al-Malikiyyah
berpendapat bahwa basmalah bukan merupakan ayat, baik dari surat
al-Fatihah maupun dari al-Qur’an.
- Al-Hanafiyyah
mengambil jalan tengah antara asy-Syafi‘iyyah dan al-Malikiyyah.
Mereka berpendapat bahwa penulisan basmalah dalam al-Mushaf menunjukkan
bahwa basmalah adalah ayat al-Qur’an, tetapi tidak menunjukkan bahwa
basmalah adalah salah satu ayat dari tiap-tiap surat. Hadis -hadis
yang memberitakan bahwa basmalah tidak dibaca dengan keras dalam
shalat ketika membaca al-Fatihah menunjukkan bahwa basmalah bukan salah
satu ayat dari surat al-Fatihah, tetapi mereka menetapkan bahwa basmalah
adalah salah satu ayat dari al-Qur’an, yang diturunkan sebagai pembatas
antara satu surat dengan surat lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: Bahwa Rasulullah saw tidak
mengetahui batas-batas surat sebelum diturunkan ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’.
Pendapat Majelis Tarjih tentang Bacaan Basmalah dalam
Shalat
Kami berpendapat boleh membaca basmalah secara jahr dan
boleh juga secara sirr dalam shalat. Pendapat ini berlandaskan hadis -hadis
sebagai berikut:
أ. عَنْ أَنَسٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰه
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ
يَقْرَأُ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ. [رواه مسلم]
Dari Anas (diriwayatkan), ia berkata: Saya shalat bersama
Rasulullah saw, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, tetapi saya tidak mendengar
seorang pun di antara mereka yang membaca: ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’.”
[HR. Muslim].
ب. عَنْ أَبِي هِلاَلٍ عَنْ نُعَيْمٍ اْلمُجَمِّرِ قَالَ:
صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِ القُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ وَلَا الضَّالِّيْنَ فَقَالَ آمِيْن وَقَالَ
النَّاسُ آمِيْن وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ: اَللهُ أَكْبَرُ، وَإِذَا قَامَ مِنَ اْلجُلُوسِ
فِي اْلإِثْنَتَيْنِ قَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ، وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ. [رواه النسائي]
Dari Abu Hilal (diriwayatkan) dari Nu’aim al-Mujammir, ia
berkata: Saya shalat dibelakang Abu Hurairah (makmum). Maka beliau membaca
‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’, kemudian membaca Ummul-Qur’an, hingga ketika
sampai pada ‘Waladl-dlaalliin’ beliau membaca ‘Amiin’. Kemudian orang-orang
yang bermakmum membaca ‘Amiin’. Dan setiap bersujud beliau membaca ‘Allahu
Akbar’ dan apabila berdiri dari duduk dalam dua rakaat, beliau membaca ‘Allahu
Akbar’, dan apabila membaca salam (sesudah selesai), beliau berkata: Demi Allah
yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya saya orang yang paling mirip
shalatnya dengan shalat Rasulullah saw. [HR. an-Nasa’i]
ت. عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ
اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ
اللّٰهُ عَنْهُمْ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيمِ [رواه النسائي]
Dari Qatadah (diriwayatkan) dari Anas, ia berkata: Saya
shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman r.a., tetapi
saya tidak mendengar seorang pun di antara mereka yang membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’
dengan keras.” [HR. an-Nasa’i]
ث. عَنْ أَبَي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأْتُمُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ فَاقْرَءُوا
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ
وَالسَّبْعُ الْمَثَانِى وَ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ إِحْدَاهَا. [رواه
الدارقطني]
Dari Abu Hurairah ra., (diriwayatkan) ia berkata:
Rasulullah saw bersabda: Apabila kamu membaca al-Hamdu Lillah (surat
al-Fatihah), maka bacalah ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’, sebab surat
al-Fatihah adalah Ummul-Qur’an dan Ummul-Kitab dan Sab’ul-Matsani,
adapun basmalah adalah salah satu ayat dari surat al-Fatihah.” [HR.
ad-Daruquthni]
ج. عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ قِرَاءَةِ
رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: كَانَتْ قِرَاءَتُهُ مَدًّا
ثُمَّ قَرَأَ: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ … . [أخرجه البخاري عن أنس، قال
الدارقطني اسناده صحيح]
“Diriwayatkan dari Anas r.a., bahwa ia pernah ditanya
tentang bacaan Rasulullah saw (surat al-Fatihah), maka Anas menjawab: Bacaannya
secara madd (panjang). Lalu ia membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim,
al-Hamdu Lillahi Rabbil ‘Alamin, ar-Rahmanir-Rahim, Maliki Yaumid-din, …’.”
[Ditakhrijkan oleh al-Bukhari dari Anas, ad-Daruquthni mengatakan: Sanadnya
shahih]
Penjelasan
- Hadis
pertama yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas, menceritakan bahwa Anas
tidak mendengar bacaan basmalah dari Nabi saw, Abu Bakar, Umar dan Utsman.
Tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak membaca basmalah sama sekali,
sebab kemungkinan mereka membacanya secara sirri, tidak jahr
(keras). Sebab dalam riwayat lainnya, yang diriwayatkan oleh Ahmad,
an-Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah, juga dari Anas, menyatakan: لاَ يَجْهَرُونَ
بِسْمِ اللهِ الَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. Ini menunjukkan bahwa mafhumnya adalah
mereka membacanya secara sirri. Hadis yang di-takhrij-kan
oleh Muslim tersebut menurut para ulama adalah hadis yang berderajat
shahih.
- Hadis
kedua, yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Nu’aim al-Mujammir,
menyatakan bahwa ketika ia shalat di belakang Abu Hurairah (makmum),
beliau membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’. Kemudian setelah
selesai shalat beliau berkata: Saya adalah orang yang paling mirip
shalatnya dengan shalat Nabi saw. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa
Nabi saw membaca basmalah dengan jahr ketika mengerjakan shalat.
Perlu diketahui bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang dekat sekali kepada
Nabi saw, dan tidak diragukan kejujuran, kepercayaan, ingatan serta
kecerdasannya. Maka tidaklah mungkin beliau berdusta. Ash-Shan‘ani
menyatakan bahwa hadis tersebut adalah hadis yang paling
shahih dalam masalah basmalah (ash-Shan‘ani, 1961, I: 173).
- Hadis
ketiga, yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Anas, menyatakan bahwa Anas
tidak mendengar Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Utsman mengeraskan
suaranya dalam membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’. Dari hadis
tersebut dapat diambil pengertian (mafhum), bahwa Nabi saw, Abu
Bakar, Umar dan Utsman membaca basmalah dengan sirri. Menurut para
ahli hadis, hadis tersebut termasuk hadis shahih (ash-Shan‘ani,
1961, I: 173).
- Hadis
keempat, yang di-takhrij-kan oleh ad-Daruquthni dari Abu Hurairah,
menyatakan bahwa Nabi saw pernah memerintahkan kepada para sahabat untuk
membaca basmalah apabila membaca al-Fatihah, sebab basmalah adalah salah
satu ayat dari surat al-Fatihah, dan menurut ad-Daruquthni hadis tersebut
adalah shahih.
- Hadis
kelima, yang ditakhrijkan oleh al-Bukhari dari Anas, menyatakan bahwa
Rasulullah saw membaca basmalah apabila membaca surat al-Fatihah. Menurut
ad-Daruquthni, sanad hadis tersebut adalah shahih.
Menurut para ahli hadis, kelima hadis tersebut adalah shahih
dan tidak dapat diketahui mana di antara hadis-hadis tersebut yang datang
lebih dahulu, sehingga tidak dapat ditetapkan mana yang nasikh (yang
menghapus) dan mana yang mansukh (yang dihapus). Justru hadis -hadis
tersebut dapat dikompromikan dan dapat diamalkan semuanya. Oleh karena
itu kami berpendapat bahwa Rasulullah saw kadang-kadang membaca basmalah secara
jahr dan kadang-kadang membacanya secara sirri. Kami tegaskan
kembali bahwa basmalah adalah salah satu ayat dari ayat-ayat surat al-Fatihah,
boleh dibaca secara jahr dan boleh pula dibaca secara sirri dalam
shalat jahr, yaitu shalat yang diharuskan membaca surat al-Fatihah
secara jahr.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah, No. 1, 2009

