Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SAKIT HATI KARENA TIDAK DIHORMATI

Selasa, 27 Januari 2026 | 17.05 WIB Last Updated 2026-01-27T10:05:00Z
Gambar: Chatgpt

Jika masih sakit hati karena tidak dihormati, artinya kita belum layak menjadi orang yang terhormat. Kalimat ini terdengar keras, namun di dalamnya tersimpan cermin yang jujur. Rasa tersinggung lahir dari ketergantungan pada pengakuan luar. Kita menunggu orang lain mengafirmasi nilai diri, seolah martabat adalah sesuatu yang bisa diberikan atau dicabut oleh sikap manusia lain.

Orang yang benar benar terhormat tidak sibuk mengukur hormat dari tepuk tangan atau sikap manis. Ia berdiri di atas kesadaran bahwa nilai diri dibangun dari integritas, bukan dari reaksi sekitar. Ketika tidak dihormati, ia tidak runtuh, karena fondasinya tidak berada di sana. Ia tetap tenang, sebab ia tahu siapa dirinya bahkan ketika dunia salah membaca.

Sakit hati adalah tanda bahwa ego masih meminta validasi. Bukan sesuatu yang harus dihakimi, melainkan dipahami. Dari sanalah proses pendewasaan dimulai. Kita belajar membedakan antara harga diri dan gengsi, antara kehormatan sejati dan citra yang ingin dipertahankan.

Kehormatan bukan tuntutan, melainkan akibat. Ia tumbuh perlahan dari konsistensi sikap, kejujuran batin, dan kesetiaan pada nilai yang diyakini. Saat kita tidak lagi gelisah oleh penghormatan orang lain, justru di sanalah martabat mulai hadir dengan sunyi, namun kokoh.

Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata, “Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Wallahua'lam.

Oleh : Tohari bin Misro, Guru Ngaji Kampoeng

Dipos ulang dari Grup WA PDM Kulon Progo