
Girimulyo, Kulon Progo Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Girimulyo menyelenggarakan rapat pembentukan pengurus JATAM (Jamaah Tani Muhammadiyah) pada Sabtu, 3 Januari 2026. Rapat yang digelar di kantor PCM Girimulyo itu dihadiri sekitar 30 orang peserta dari berbagai unsur organisasi tani dan perwakilan ranting Muhammadiyah setempat.
Hadir secara resmi dalam acara tersebut antara lain Ketua JATAM Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Luqman, Ketua JATAM Kulon Progo Ngadiran, S.P., Sekretaris JATAM Darmanto, S.K.KP., Ketua PCA Girimulyo sekaligus Ketua KWT Aisyah Istartinah, serta anggota KWT Aisyah Tursidah. Selain itu hadir delegasi dari lima PRM (Pimpinan Ranting Muhammadiyah) di Girimulyo masing-masing mengutus tiga orang.
Rapat yang dihadiri total 30 orang itu bertujuan membentuk struktur pengurus JATAM tingkat ranting serta merumuskan program kerja awal yang menekankan pemberdayaan ekonomi tani dengan pendekatan dakwah. “Penting berjamaah dalam bertani, karena dengan berjamaah berorganisasi kita akan lebih kuat. Kita tidak hanya bertani sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam akses pasar, teknologi, dan permodalan,” tegas Ketua JATAM DIY Luqman saat membuka pertemuan.
Ngadiran, S.P., Ketua JATAM Kulon Progo, menambahkan arah gerakan yang ingin dibangun: “Dakwah lewat ekonomi adalah pendekatan kami. Dakwah bukan hanya ceramah di masjid; melalui penguatan usaha tani, pendampingan pengolahan hasil, dan manajemen usaha yang baik, petani bisa lebih sejahtera secara riil.” Pernyataan ini mendapat sambutan hangat dari peserta, terutama anggota KWT dan perwakilan PRM.
Sekretaris JATAM, Darmanto, S.K.KP., menjelaskan proses pembentukan pengurus yang berlangsung secara partisipatif. “Susunan kepengurusan dirancang untuk representatif; ada perwakilan dari KWT, PRM, serta unsur pemuda dan penyuluh. Hari ini kami menyepakati pembentukan struktur sementara dan tim kerja untuk menyusun AD/ART dan program prioritas,” ujarnya.
Istartinah, yang juga memimpin KWT Aisyah Girimulyo, menyoroti peran perempuan tani dalam mendukung ketahanan keluarga dan peningkatan nilai tambah produk pertanian. “KWT siap menjadi motor pengolahan hasil dan pemasaran. Kami ingin anggota perempuan tani memperoleh keterampilan pengolahan, kemasan, dan akses pasar sehingga pendapatan keluarga meningkat,” kata Istartinah.
Sandi, perwakilan PRM Pendoworejo, menegaskan harapannya terhadap JATAM yang baru dibentuk: “Selama ini kendala utama petani adalah modal, teknologi, dan pasar. Kami berharap JATAM dapat menjadi wadah advokasi dan fasilitator misalnya memfasilitasi koperasi tani, pelatihan, dan jejaring pemasaran.” Tursidah, anggota KWT Aisyah, menambahkan bahwa program pelatihan pascapanen dan diversifikasi usaha menjadi prioritas mereka.
Dalam rapat juga disepakati beberapa prioritas kerja JATAM Girimulyo: pelatihan budidaya ramah lingkungan, pendirian unit usaha bersama (mis. koperasi tani/KWT), pendampingan pemasaran dan branding produk lokal, serta penguatan jejaring antar-PRM. Tim kecil dibentuk untuk menyelesaikan AD/ART dan rencana kerja tiga bulan pertama.
Acara diakhiri dengan komitmen bersama dari seluruh peserta untuk menjalankan program secara berkelanjutan dan melibatkan sebanyak mungkin petani di Girimulyo. “Ini bukan hanya pembentukan struktur formal, melainkan langkah awal gerakan kolektif untuk memajukan pertanian lokal melalui spirit berjamaah dan dakwah ekonomi,” tutup Luqman. (EdwinDA)
