Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Lebaran, Perbedaan, dan Sikap warga Muhammadiyah

Kamis, 26 Maret 2026 | 07.17 WIB Last Updated 2026-03-26T00:17:00Z


Arif Jamali Muis
~ Catatan selepas subuh

Awalnya saya ingin menahan diri untuk tidak berkomentar tentang beberapa kejadian pada 1 Syawal tahun ini. Ada tokoh yang mengatakan bahwa tidak mengikuti pemerintah dalam berhari raya hukumnya haram. Di beberapa tempat, bahkan ada warga Muhammadiyah yang tidak diizinkan melaksanakan salat Id. Tentu ini bukan peristiwa yang menyenangkan. Namun saya merasa, sebagai warga Persyarikatan, beberapa hal tetap perlu disampaikan dengan jernih, tenang, dan proporsional.

Titik tolak persoalan ini sesungguhnya berangkat dari keputusan Muhammadiyah yang sejak awal telah menetapkan 1 Syawal dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dalam suasana seperti ini, bagi kita warga muhammadiyah yang penting diteguhkan adalah apa yang diputuskan Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang salah, apalagi bertentangan dengan ajaran agama. Setiap keputusan dalam Muhammadiyah diambil melalui proses yang cermat, hati-hati, dan didasarkan pada dalil-dalil syar’i, baik Al-Qur’an maupun hadis, serta kajian keilmuan yang mendalam. Keputusan-keputusan itu bukan untuk sensasi, bukan pula untuk mencari perbedaan, melainkan untuk kepentingan dakwah Islam dan kemaslahatan masyarakat luas.

Karena itu, KHGT bukanlah keputusan baru yang lahir mendadak. Gagasan ini telah dikaji bertahun-tahun dengan melibatkan banyak ahli dari berbagai bidang. Ada ikhtiar intelektual yang panjang di sana. Ada kesungguhan untuk menjawab kebutuhan umat Islam ke depan.

Kita juga perlu memahami bahwa metode penetapan 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah berada di wilayah ijtihadiyah. Ia bukan wilayah akidah yang membuat orang keluar dari Islam bila berbeda, dan bukan pula perkara ibadah mahdhah yang bentuknya sudah final tanpa ruang penalaran. Karena ini wilayah ijtihad, maka perbedaan penafsiran dan penerapan sangat mungkin terjadi. Menggunakan rukyat adalah hasil ijtihad. Menggunakan hisab pun hasil ijtihad. Semuanya berada dalam ruang pemikiran Islam yang sah untuk dibahas.

Lalu mengapa Muhammadiyah menawarkan KHGT? Karena sampai hari ini umat Islam, setelah berabad-abad lamanya, belum juga memiliki satu kalender Hijriah yang berlaku sama untuk seluruh dunia Islam. Padahal dalam kehidupan modern, kepastian kalender sangat penting, bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga untuk pendidikan, ekonomi, administrasi, dan hubungan sosial umat secara global. Kira-kira, umat Islam memerlukan kalender yang pasti sebagaimana kalender Masehi. Dalam bahasa Prof. Haedar Nashir, ini adalah “utang peradaban” yang harus dibayar. Muhammadiyah menawarkan KHGT sebagai salah satu jalan menuju ke sana.

Apakah KHGT bersifat final dan tak bisa dikritik? Tentu tidak. KHGT terbuka untuk diperdebatkan, dikoreksi, dan dievaluasi. Tetapi pertanyaan dasarnya justru lebih besar: apakah umat Islam memang memerlukan kalender Hijriah yang pasti seperti kalender masehi? Kalau jawaban atas pertanyaan itu “ya”, maka sesungguhnya kita sedang masuk ke wilayah pencarian metode terbaik, bukan saling menyesatkan.

Karena itu, ketika ada yang mengatakan haram, ada yang melarang, atau ada tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan terhadap warga Muhammadiyah, semua itu semestinya kita tanggapi dengan hati dingin, pikiran terbuka, dan orientasi pada solusi. Kita tidak perlu membalas dengan kemarahan. Muhammadiyah sejak awal memang akrab dengan cap-cap seperti itu. Kiai Dahlan dan generasi awal Muhammadiyah sudah terlalu sering mengalaminya.

Ketika Kiai Dahlan mendirikan sekolah yang memadukan metode modern dan ruh pesantren, banyak yang memandang itu aneh, salah, bahkan haram. Tetapi sejarah membuktikan, model itu kemudian diterima luas, bahkan diikuti banyak pihak. Ketika arah kiblat dikoreksi dengan pendekatan ilmu hisab dan astronomi, Kiai Dahlan juga pernah dianggap menyimpang. Namun seratus tahun kemudian, koreksi arah kiblat justru menjadi bagian dari kebijakan resmi, bahkan negara mengeluarkan sertifikasi arah kiblat agar lebih akurat. Begitulah risiko menjadi pelopor: sering disalahpahami pada awal, tetapi kemudian dipahami sebagai jalan kemajuan.

Muhammadiyah sering hadir sebagai pelopor, sebagai suluh peradaban. Tetapi pelopor yang sejati tidak berdiri dengan keangkuhan. Ia berdiri dengan kerendahan hati, dengan kesabaran, dengan ketekunan, dan dengan semangat mengabdi. Insyaallah, dari jalan seperti itulah Allah akan membukakan jalan terbaik.

Di sisi lain, kita juga harus jujur mengatakan bahwa pekerjaan Muhammadiyah untuk memajukan umat dan bangsa masih sangat banyak. Agenda internal kita sendiri menuntut perhatian besar. Kesejahteraan guru-guru Muhammadiyah masih perlu diperjuangkan. Kualitas sekolah dan madrasah Muhammadiyah harus terus ditingkatkan. Pemberdayaan ekonomi warga masih harus diperkuat. Lazismu harus makin kokoh. Respons kebencanaan memerlukan relawan yang tangguh. Amal usaha memerlukan pembaruan yang terus-menerus. Dakwah pencerahan harus makin membumi. Energi kita terlalu berharga jika habis hanya untuk memperpanjang perdebatan yang tidak produktif.

Karena itu, mari kita terima semua dinamika ini dengan ikhlas, sambil terus berjuang di medan amal yang nyata. Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disebutkan bahwa dengan Muhammadiyah ini, insyaallah, kita dihantarkan ke depan pintu gerbang surga jannatun na’im. Jalan ke sana bukan jalan yang selalu lapang dan sepi ujian. Tetapi itulah jalan pengabdian yang kita pilih.

Kini kita semua sudah berlebaran. Perbedaan itu telah lewat. Hari ini semua sudah makan ketupat. Tak ada lagi jarak yang perlu dipelihara, tak ada lagi perdebatan yang perlu diwariskan. Yang tersisa semestinya adalah kejernihan hati, kelapangan jiwa, dan persaudaraan yang makin dewasa.

Mari berbahagia. Mari melangkah lagi. Mari melupakan perdebatan yang melelahkan, seraya terus merawat keyakinan, adab, dan pengabdian.

Mohon maaf lahir dan batin, kawan-kawan.

Semoga setelah semua riuh ini reda, yang tersisa dalam diri kita bukan amarah, melainkan hikmah; bukan luka, melainkan kedewasaan; bukan jarak, melainkan persaudaraan.