
Yogyakarta — Upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali diperkuat melalui kegiatan kolaboratif yang diselenggarakan di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Kegiatan ini melibatkan 170 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, organisasi masyarakat, hingga perwakilan instansi pemerintah.
Direktur RS PKU Muhammadiyah Gamping, dr. H. Ahmad Faesol, Sp.Rad, M.Kes, MMR, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menangani TBC yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
“Kami menyambut baik kerja sama ini. Penanggulangan TBC tidak bisa dilakukan sendiri oleh fasilitas layanan kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi luas dengan berbagai pihak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Ketua MPKU PWM DIY, dr. Masykur Rahmat, MARS, yang menegaskan komitmen organisasinya untuk terus berkolaborasi dalam upaya pengendalian TBC.
“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat jejaring dan kolaborasi, baik dengan pemerintah, fasilitas kesehatan, maupun organisasi masyarakat. Ini adalah kerja bersama,” katanya.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Daerah DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.PH, yang memberikan sambutan sekaligus menegaskan pentingnya percepatan eliminasi TBC melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis data.
Dalam sesi materi, peserta mendapatkan pembaruan informasi terkait situasi dan kebijakan TBC di DIY. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH, menyampaikan apresiasi terhadap peran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam Tim Percepatan Eliminasi TBC.
“Kontribusi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sangat signifikan dalam mendukung penemuan kasus dan edukasi masyarakat. Ini menjadi kekuatan penting dalam percepatan eliminasi TBC,” jelasnya.
Materi klinis turut disampaikan oleh dr. Ardorisye Saptaty Fornia, Sp.P., M.Kes dari RS PKU Muhammadiyah Gamping, yang mengulas pembaruan tata laksana TBC, termasuk perubahan dosis obat dan pengenalan regimen baru. Ia menekankan pentingnya tenaga kesehatan memahami pembaruan tersebut agar pengobatan lebih efektif dan sesuai standar terbaru.
Sementara itu, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D., Sp.A(K) dari IDAI DIY membahas tata laksana TBC pada anak. Ia menyoroti adanya perbaikan dalam alur diagnosis, termasuk penegasan bahwa sistem skoring tidak lagi menjadi patokan utama.
“Diagnosis TBC anak harus lebih komprehensif, tidak hanya bergantung pada skoring, tetapi juga mempertimbangkan aspek klinis dan epidemiologis,” ungkapnya.
Penguatan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) juga menjadi fokus melalui materi yang disampaikan oleh dr. Nadia Nur Azizah dari Klinik Firdaus 24 Jam. Ia menekankan pentingnya FKTP dalam penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan.
Apt. Edwin Daru Anggara, M.Sc., MPH selaku technical officer public private mix Global Fund TBC menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas kolaborasi.
“Sebelumnya kolaborasi banyak dilakukan dengan perguruan tinggi, dan kali ini kami menyasar organisasi masyarakat serta fasilitas kesehatan untuk memperkuat jejaring penanggulangan TBC,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari sesi diskusi yang aktif. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari efektivitas pengobatan hingga edukasi masyarakat. Salah satu peserta, Nanda Suganda dari Disperindag ESDM Kabupaten Garut, menanyakan strategi pengobatan TBC yang lebih efektif.
“Kegiatan ini sangat baik untuk edukasi masyarakat. Saya mendapatkan banyak pemahaman baru terkait pengobatan TBC,” katanya.
Peserta lain, Mujiyati, S.ST., Ners dari Puskesmas Ngaglik 1, menyoroti tata laksana terapi pencegahan TBC (TPT) pada kelompok dengan riwayat penyakit tertentu.
“Penjelasan materi cukup jelas dan membantu kami dalam praktik di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, John Aridar Nugroho, Amd.AK dari Puskesmas Srandakan menekankan pentingnya edukasi bagi lingkungan pasien.
“Edukasi kepada masyarakat sekitar pasien sangat penting agar tidak terjadi stigma. Harapannya kegiatan seperti ini bisa rutin dilakukan,” ungkapnya.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, meskipun didominasi dari DIY. Mereka mewakili beragam institusi, termasuk rumah sakit, puskesmas, klinik, universitas, organisasi profesi, hingga instansi pemerintah seperti dinas kesehatan dan dinas sosial.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa penanggulangan TBC membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai sektor. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan target eliminasi TBC dapat tercapai secara lebih efektif dan berkelanjutan.
