KULON PROGO Menjadi lansia bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Justru, masa lanjut usia perlu dipersiapkan sejak dini agar perempuan tetap sehat, mandiri, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian yang digelar Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Kulon Progo di Masjid KH Ahmad Dahlan, Dalangan, Jumat (21/8/2026). Kegiatan membahas kesehatan perempuan ketika memasuki usia lansia dengan menghadirkan Ns. Zubaida Rohmawati, MPH, anggota Majelis Kesehatan PDA Kulon Progo sekaligus dosen keperawatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta).Zubaida mengajak peserta melihat proses penuaan secara lebih utuh. Menurutnya, bertambahnya usia merupakan proses alami dalam kehidupan manusia. Karena itu, perempuan perlu memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi ketika memasuki masa menopause hingga usia lanjut.
“Menua itu pasti, tetapi menjadi lansia yang sehat dan bermartabat membutuhkan persiapan. Kita perlu menjaga tubuh, menjaga pikiran, membangun hubungan sosial, dan tetap dekat secara spiritual,” ujar Zubaida.
Salah satu hal yang banyak dibahas adalah menopause. Pada fase ini terjadi perubahan hormonal yang dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Keluhan yang muncul tidak hanya berupa hot flashes atau rasa panas mendadak, tetapi juga gangguan tidur, kelelahan, perubahan suasana hati, masalah urogenital, hingga penurunan konsentrasi.
Zubaida mengatakan, perempuan tidak perlu menghadapi menopause dengan rasa takut.
“Menopause bukan penyakit. Ini adalah fase kehidupan yang harus dipahami. Dengan pengetahuan yang baik, pola hidup sehat, aktivitas fisik, makanan bergizi, dan dukungan keluarga, perempuan dapat melewati fase ini dengan lebih nyaman,” katanya.
Pembahasan kemudian bergeser pada persoalan yang cukup sering dialami lansia, yakni nyeri pinggang atau low back pain (LBP). Berdasarkan data penelitian yang dipaparkan, 68,2 persen lansia mengalami nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Namun, menopause ternyata bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan keluhan tersebut. Analisis yang dipaparkan menunjukkan tidak terdapat hubungan statistik yang signifikan antara status menopause dan tingkat keparahan LBP. Faktor usia, berat badan, aktivitas fisik, posisi tubuh, hingga kondisi psikologis turut berpengaruh.
“Nyeri pinggang pada lansia itu kompleks. Kita tidak bisa mengatakan semua keluhan terjadi karena menopause. Cara duduk, aktivitas sehari-hari, berat badan, dan kondisi psikologis juga harus diperhatikan,” jelasnya.
Selain masalah fisik, peserta diajak memberi perhatian lebih pada persoalan gizi. Data yang dipaparkan menunjukkan 41,7 persen lansia berada dalam kondisi berisiko malnutrisi dan 15,3 persen mengalami malnutrisi.
Menurut Zubaida, persoalan gizi lansia sering kali tidak terlihat. Nafsu makan yang menurun, kesulitan mengunyah, kehilangan gigi, hingga masalah kesehatan mulut dapat membuat asupan makanan berkurang.
“Lansia tetap membutuhkan makanan yang cukup, tetapi yang lebih penting adalah kualitasnya. Makanan harus halal dan thayyib, bergizi, mudah dikonsumsi, serta sesuai dengan kondisi tubuh lansia,” paparnya.
Perhatian juga diberikan pada kesehatan mental. Kesepian, kehilangan pasangan, berkurangnya interaksi sosial, kecemasan terhadap kematian, dan perubahan kemampuan kognitif merupakan tantangan yang dapat memengaruhi kesejahteraan lansia.
Dalam kesempatan itu, Zubaida mengenalkan pendekatan Spiritual Mindfulness Therapy, yang memadukan latihan kesadaran diri dengan nilai spiritual Islam. Dalam penelitian yang dipaparkan, pendekatan tersebut menunjukkan penurunan skor distress psikologis secara signifikan setelah intervensi.
“Kadang-kadang kita terlalu fokus pada penyakit fisik. Padahal lansia juga bisa merasa sepi, cemas, dan kehilangan makna. Mereka perlu didengar dan ditemani. Spiritualitas bisa menjadi salah satu sumber kekuatan untuk menghadapi perubahan tersebut,” kata Zubaida.
Peserta Merasa Materi Dekat dengan Kehidupan
Materi yang disampaikan mendapat perhatian peserta karena dinilai dekat dengan persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
“Ternyata banyak hal yang selama ini kami anggap biasa pada masa menopause ternyata perlu diperhatikan. Saya jadi lebih paham bagaimana menjaga kesehatan sejak sekarang,” ujar salah seorang peserta.
Peserta lainnya mengaku mendapatkan sudut pandang baru mengenai kesehatan lansia.
“Selama ini kita sering berpikir lansia hanya perlu diperiksa ketika sakit. Padahal mereka juga perlu diperhatikan makanannya, kondisi emosinya, dan bagaimana keluarga memperlakukan mereka,” ungkap peserta lainnya.
Bagi panitia, pembahasan mengenai kesehatan perempuan dan lansia penting untuk terus dilakukan di tengah masyarakat.
“Kami ingin kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong keluarga untuk lebih peduli terhadap kesehatan perempuan dan lansia di rumah,” ujar Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Kulon Progo, Dra. Ukhti Jam’iyati, M.Ag.
Menurutnya, keluarga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang membuat lansia tetap merasa dihargai dan dibutuhkan.
“Lansia membutuhkan perhatian, tetapi bukan berarti harus kehilangan kesempatan untuk tetap beraktivitas dan mengambil bagian dalam keluarga maupun masyarakat,” tambahnya.
Di sisi lain, Zubaida mengingatkan bahwa merawat lansia bukan sekadar tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting.
Dalam perspektif Islam, menghormati lansia merupakan bagian dari adab. Generasi yang lebih muda dianjurkan berbicara dengan lembut, menyapa lebih dahulu, mendengarkan mereka, serta memberikan prioritas ketika berada di ruang publik.
“Lansia bukan beban. Mereka adalah bagian dari perjalanan keluarga kita. Di balik usia mereka ada pengalaman, perjuangan, dan kehidupan yang panjang. Tugas kita adalah memastikan mereka tetap sehat, dihormati, dan merasa berarti,” tegas Zubaida.
Ia berharap edukasi kesehatan lansia tidak berhenti di ruang pengajian, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, menjaga kesehatan mental, hingga membangun komunikasi yang lebih hangat dengan anggota keluarga.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan lansia menurut Zubaida merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan secara utuh. Kesehatan fisik, kesehatan mental, hubungan sosial, dan spiritualitas perlu berjalan bersama agar perempuan dapat memasuki usia lanjut dengan lebih siap dan tetap memiliki kehidupan yang bermakna.
Kontributor: Edwin Daru Anggara

