Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dari Kebun Pisang ke Eduwisata, Kampung Berkemajuan Grubug Masuki Tahun Kedua

Selasa, 29 September 2026 | 09.55 WIB Last Updated 2026-09-29T03:04:01Z


KULON PROGO — Program Kampung Berkemajuan di Padukuhan Grubug, Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan, memasuki tahun kedua dengan fokus memperkuat potensi lokal dari sektor budidaya hingga pemasaran. Komoditas pisang yang sebelumnya dikembangkan mulai diarahkan menjadi ekosistem ekonomi berbasis masyarakat.

Penguatan program dibahas dalam Sosialisasi Kampung Berkemajuan Tahun Kedua, Minggu (27/9/2026). Mengusung tema “Sinergi Kebaikan untuk Inovasi Sosial”, forum tersebut mempertemukan Muhammadiyah, pemerintah, OPD, legislatif, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk menyusun strategi pengembangan program secara berkelanjutan.

Ketua MPM PWM DIY Agus Amin Saifudin mengatakan Kampung Berkemajuan merupakan model pemberdayaan berbasis kawasan yang diinisiasi LAZISMU bersama MPM. Menurutnya, pengembangan potensi Grubug, khususnya komoditas pisang, membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya semakin luas.

“Kalau bicara kebaikan itu enggak bisa sendiri, harus bersinergi,” ujar Agus.

Memasuki tahun kedua, program diarahkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat pengolahan, pemasaran, pemanfaatan lahan wakaf, serta kapasitas masyarakat. Pemerintah Kapanewon Nanggulan turut mendorong agar produk lokal Grubug dapat terhubung dengan potensi pariwisata di wilayah tersebut.

Salah satu produk yang mulai dikembangkan adalah Pisang Muku, identitas produk berbahan pisang dari Grubug. Komoditas tersebut telah dikembangkan menjadi beragam olahan, antara lain keripik gedebok pisang, kerupuk gonggol pisang, ceriping pisang, banana cookies, muffin, hingga banana bread atau cake.

Pada tahun pertama, sekitar 1.000 bibit pisang telah didistribusikan untuk ditanam di sejumlah lokasi, termasuk masyarakat Grubug dan Nanggulan serta kawasan LKSA melalui KCM dan JATAM. Budidaya masih menghadapi tantangan berupa penyakit tanaman, hama, dan kekeringan sehingga pendampingan teknis dari sektor pertanian dinilai penting untuk tahap berikutnya.

MPM PWM DIY melalui Lukman Johanuddin menjelaskan, pengembangan Kampung Berkemajuan diarahkan membangun rantai pemberdayaan dari hulu hingga hilir. Mulai pembibitan, budidaya, pengolahan, penguatan UMKM, pemasaran, hingga pengembangan wisata berbasis masyarakat.

“Yang kita harapkan dari Kampung Berkemajuan ini adalah bagaimana kemudian ada sinergi antara LAZISMU, MPM, pemerintah, organisasi Muhammadiyah, dan berbagai pihak yang ada,” jelas Lukman.

Tahun kedua juga akan memberi perhatian lebih pada generasi muda. Mereka diharapkan terlibat dalam pemasaran digital sekaligus pengembangan gagasan eduwisata berbasis pisang dan potensi kawasan Grubug. Konsepnya mencakup edukasi pengolahan pisang, cooking class, pembelajaran usaha, pengalaman bertani dan bersawah, hingga pengenalan budidaya pisang.

Sementara itu, Muhammad Saeful Effendi dari LAZISMU DIY menegaskan bahwa Kampung Berkemajuan merupakan bagian dari upaya LAZISMU mengembangkan program pemberdayaan yang berdampak jangka panjang. ZIS tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga menjadi instrumen penguatan ekonomi masyarakat.

“LAZISMU itu bukan hanya memberikan yang konsumtif, tetapi juga ada program-program yang sifatnya produktif dan jangka panjang,” ujarnya.

Pada tahun kedua, evaluasi program akan menggunakan capaian tahun pertama sebagai baseline. Indikator yang diperhatikan meliputi peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, diversifikasi produk, informasi nilai gizi, penguatan branding, pusat pemasaran, serta pengembangan eduwisata.

Melalui kolaborasi Muhammadiyah, pemerintah, OPD, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat, Kampung Berkemajuan Grubug ditargetkan berkembang dari sekadar program pemberdayaan menjadi ekosistem ekonomi lokal yang mampu membuka ruang kemandirian dan meningkatkan nilai tambah potensi masyarakat.