Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Khutbah Jumat: Hari Ketika Manusia Lari dari Orang yang Dicintainya

Kamis, 15 Oktober 2026 | 16.10 WIB Last Updated 2026-10-15T09:10:55Z


Edisi: 55/KMM MT PDM KULON PROGO
5 Jumadil Awal 1448 / 16 Oktober 2026

Khutbah Jumat: Hari Ketika Manusia Lari dari Orang yang Dicintainya

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ كَمَا قَالَ اللهُ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah menggambarkan salah satu keadaan manusia pada hari kiamat dengan gambaran yang sangat menggugah hati. Allah berfirman dalam QS. 'Abasa: 34-37:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)

"Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. " (QS. 'Abasa: 34-37)

Dalam ayat tadi Allah menggunakan redaksi yafirru (يَفِرُّ) yang artinya tidak sekedar membiarkan, mendiamkan atau menghindari tapi benar-benar lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Tiap orang benar-benar tidak mempedulikan orang yang dulu di dunia dikasihinya. Dulu di dunia, seorang anak mungkin rela berkorban untuk ayah dan ibunya. Seorang ibu rela tidak tidur demi anaknya. Seorang ayah bekerja keras demi keluarganya. Namun pada hari itu keadaan berbeda, setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Jamaah rahimakumullah, para ulama tafsir menjelaskan beberapa sebab mengapa manusia saling menjauh pada hari kebangkitan itu. Ada yang mengatakan bahwa setiap orang sibuk memikirkan keselamatan dirinya. Ada yang menjelaskan bahwa seseorang takut jika orang lain meminta sesuatu kepadanya, sementara ia sendiri sangat membutuhkan keselamatan. Ada pula yang menjelaskan bahwa manusia mengetahui bahwa keluarganya tidak mampu memberikan manfaat kepadanya pada hari itu. Dan manusia sendiri merasa tidak berdaya untuk menghilangkan ketakutan orang lain ataupun menyelamatkannya.

Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa seseorang pada hari kiamat mendatangi istrinya. Ia bertanya tentang bagaimana dirinya ketika menjadi suaminya di dunia. Sang istri memuji kebaikannya. Kemudian ia meminta agar istrinya memberikan sebagian kebaikannya kepadanya. Tetapi sang istri tidak mampu memberikannya, karena ia sendiri sedang membutuhkan keselamatan. Begitu pula ketika seorang ayah mendatangi anaknya dan sebaliknya.

Jamaah yang dimuliakan Allah, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menceritakan peristiwa syafaat di mana ketika dimintakan kepada tiap-tiap rasul dari ulul 'azmi untuk memohonkan syafaat agar di hadapan Allah untuk semua makhluk, maka tiap-tiap orang dari mereka mengatakan.”Aku lebih mengutamakan diriku, aku lebih mengutamakan diriku, dan aku tidak memohon kepada Engkau selain keselamatan buat diriku sendiri." Sehingga Isa putra Maryam sendiri mengatakan,"Aku tidak memohon kepada-Nya hari ini kecuali untuk keselamatan diriku sendiri, dan aku tidak memohon kepada-Nya untuk keselamatan ibuku Maryam yang telah melahirkanku."

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Dhahhaq bahwa Ibnu Abbas berkata: "Qobil lari dari Habil, Nabi ﷺ lari dari ibunya, Nabi ibrahim lari dari anaknya, Nabi Nuh lari dari istrinya, Nabi Luth dari istrinya, Nabi Adam dari anak-anaknya yang buruk".

Jamaah yang dimuliakan Allah, kenapa penyebutan larinya seseorang diurutkan dari saudara, kemudian ibu dan ayahnya dan terakhir lari dari pasangan dan anak-anaknya? Ini berdasarkan urutan rasa cinta dari yang rendah ke yang lebih tinggi pada umumnya manusia di dunia. Secara umum yang paling dicintai manusia yaitu keluarga inti yang terdiri dari pasangan dan anak-anak, kemudian kedua orang tua dan terakhir saudara-saudaranya.

Jamaah rahimakumullah, di surat yang lain Allah menggambarkan keadaan orang-orang kafir pada hari itu:

يُبَصَّرُونَهُمْ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ (11) وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ (12) وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ (13) وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ (14)

"Sedang mereka saling memandang. Orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, kaum keluarganya yang melindunginya, bahkan dengan seluruh manusia yang ada di bumi, kemudian tebusan itu dapat menyelamatkannya." (QS. Al-Ma'arij: 11-14)

Mereka yang di dunia saling membantu dalam kekafiran, keburukan, membela kedzaliman, atau mengikuti pemimpin yang menyesatkan akan saling melaknat, saling menyalahkan, dan saling berlepas diri di akhirat sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an:

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لأولاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

"Allah berfirman, "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kalian. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk ke dalam semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, "Ya Tuhan kami. mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkan­lah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-A'raf: 38)

Hubungan yang dibangun di atas kemaksiatan, permusuhan terhadap kebenaran, dan saling menjerumuskan dapat berubah menjadi permusuhan pada hari kiamat. Sebaliknya, hubungan persahabatan yang dibangun di atas iman, ketakwaan, saling menasihati dalam kebaikan, dan menjauhi kemungkaran diharapkan tetap berlanjut hingga akhirat.

Di dunia, seseorang mungkin berkata: "Anak saya adalah segalanya.", atau: "Istri saya adalah orang yang paling saya cintai.", atau: "Keluarga saya adalah tempat saya kembali." Tetapi ketika berhadapan dengan adzab Allah, orang yang durhaka kepada Allah berharap kalau saja seluruh orang yang dicintainya dapat dijadikan tebusan untuk dirinya, namun tidak ada yang dapat menebusnya.

Jamaah rahimakumullah, kesempatan untuk bisa selamat dari adzab Allah masih ada. Kesempatan untuk berbuat baik kepada keluarga juga masih terbuka , begitu pula kesempatan untuk menunaikan hak orang lain juga masih ada, maka marilah kita manfaatkan kesempatan itu. Kalau masih ada ibu dan ayah, maka mari muliakanlah mereka. Kalau selama ini kita pernah menyakiti mereka, maka segeralah kita meminta maaf. Kalau masih ada suami atau istri, janganlah kita bermudah-mudahan menyakiti hati mereka. Kalau ada anak-anak, marilah kita tunaikan amanah mendidik mereka. Kalau ada saudara yang sedang bermusuhan, jangan biarkan permusuhan itu dibawa sampai mati. Kalau ada hak orang lain yang masih kita pegang, maka mari kita kembalikan. Kalau ada kesalahan yang pernah kita lakukan, maka marilah segera bertaubat. Marilah kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia. Jangan sampai orang yang hari ini kita cintai justru menjadi orang yang menuntut kita di hadapan Allah karena kedzaliman yang pernah kita lakukan.

Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah kemudian memberikan kabar gembira bahwa ada keadaan lain setelah orang-orang lari dari yang dicintainya. Orang-orang beriman dapat memperoleh syafaat dengan izin Allah. Allah berfirman:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

"Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridai Allah; dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS. Al-Anbiya: 28)

Setelah orang-orang beriman dihisab dan dipastikan selamat dari adzab Allah, mereka mulai mencari keluarga mereka dan teman-teman yang dicintainya untuk membersamainya. Di saat inilah Allah memberikan hak syafaat kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya sehingga seorang beriman bisa menyelamatkan orang-orang yang dicintainya dengan izin Allah.

Syafaat bukan milik manusia secara mutlak. Syafaat adalah hak Allah, dan tidak ada seorang pun dapat memberikan syafaat kecuali setelah Allah mengizinkannya. Dan tentu saja Allah hanya akan memberikan syafaat kepada orang yang diridhai-Nya. Karena itu, marilah kita cari ridha Allah dengan menaati-Nya. Marilah kita membangun keluarga yang saling mencintai karena Allah. Bukan hanya mencintai keluarga karena hubungan darah. Suami membantu istrinya untuk taat kepada Allah. Istri membantu suaminya untuk taat kepada Allah, tidak menjerumuskannya dalam perbuatan curang demi memperoleh harta. Orang tua mendidik anak-anaknya agar mengenal Allah. Anak berbakti kepada orang tuanya. Saudara saling menolong dalam kebaikan.

Allah berfirman:

الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67 )

Ayat ini menegaskan bahwa teman bukan sekadar orang yang menemani kita di dunia. Teman adalah orang yang dapat memengaruhi jalan hidup dan nasib kita di akhirat. Hubungan kita dengan ayah kita, ibu kita, anak-anak kita dan saudara-saudara kita yang kita curahkan cinta kita kepada mereka atau kita rasakan cinta mereka kepada kita bisa saja berakhir dengan permusuhan di akhirat atau tetap langgeng di sana. Ini tergantung atas dasar apa kita mencintai mereka dan mereka mencintai kita. Semoga rasa cinta ini karena Allah semata.....

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah kedua

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِأَزْوَاجِنَا، وَلِأَوْلَادِنَا، وَلِإِخْوَانِنَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا، وَأَصْلِحْ أَوْلَادَنَا، وَاجْمَعْ بَيْنَنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ تَحَابُّوا فِيكَ، وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَاجْمَعْنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي رَحْمَتِكَ وَرِضْوَانِكَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًا، وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ بَيْنَنَا شَقِيًّا وَلَا مَحْرُومًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.