Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HSB Maret dr. Ahmad Faesol: Ibadah Adalah Investasi Kesehatan

Minggu, 01 Maret 2026 | 14.38 WIB Last Updated 2026-04-07T07:45:06Z


KULON PROGO – Pengajian Hari Syiar Muhammadiyah (HSB) Kulon Progo edisi Maret 2026 menghadirkan narasumber istimewa, dr. Ahmad Faesol, Sp.Rad., M.Kes. Dalam tausiahnya di Masjid Agung Wates, Direktur PKU Muhammadiyah Gamping tersebut membedah secara ilmiah bagaimana rangkaian ibadah di bulan Ramadan memberikan dampak luar biasa bagi kesehatan jasmani dan rohani manusia.

Puasa: Momentum 'Servis' Organ Tubuh Dokter Faesol menjelaskan bahwa puasa selama kurang lebih 13 jam memberikan kesempatan bagi organ pencernaan, terutama usus dan lambung, untuk beristirahat. "Organ tubuh kita ibarat mesin motor yang butuh servis. Saat kita berpuasa, sel-sel usus melakukan recovery atau perbaikan sel yang rusak," jelasnya.

Beliau juga menepis anggapan bahwa puasa memperburuk sakit maag. Sebaliknya, dengan pola makan yang teratur saat sahur dan buka, serta istirahatnya lambung dari aktivitas mengolah makanan, luka pada dinding lambung justru memiliki peluang lebih besar untuk sembuh secara alami.

Irama Sirkadian dan Keajaiban Salat Malam Satu hal menarik yang dibahas adalah kaitan antara waktu salat dengan Irama Sirkadian (jam biologis tubuh). Dr. Faesol mengungkapkan bahwa denyut nadi manusia mencapai titik terendah saat tidur lelap di dini hari (sekitar jam 2-3 pagi). Kondisi aliran darah yang lambat ini berisiko menyebabkan pengendapan kolesterol pada dinding pembuluh darah, yang memicu serangan jantung atau stroke.

"Bangun untuk salat malam atau tahajud bukan hanya perintah agama, tapi cara medis untuk meningkatkan denyut nadi secara alami. Gerakan wudu dan salat mempercepat aliran darah, sehingga mencegah penyumbatan pembuluh darah," tambahnya.

Gerakan Salat dan Kecerdasan Otak Tak hanya waktu, gerakan salat seperti sujud juga memiliki manfaat spesifik. Saat sujud dengan tumakninah, sekitar 70-80% darah mengalir ke otak. Hal ini mendukung asupan oksigen dan nutrisi maksimal ke sel-sel otak, yang secara teoritis meningkatkan kecerdasan dan ketenangan jiwa.

Menjadi Muslim yang Cerdas Pasca-Ramadan Di akhir ceramahnya, dr. Faesol mengajak jemaah untuk mengubah mindset. Ramadan jangan hanya dijadikan rutinitas tahunan, melainkan momentum untuk memperbaiki kualitas hidup secara menyeluruh—baik aspek biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual.

"Lulusan Ramadan seharusnya hidup lebih sehat dan disiplin. Jangan sampai setelah Ramadan usai, saf salat di masjid ikut berkurang dan pola hidup sehat kita terhenti," pungkasnya. (heri)