Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Milad ke-62 IMM: Fokal Kulon Progo Ingatkan Kader Kembali ke Khittah KH Ahmad Dahlan

Kamis, 16 April 2026 | 09.40 WIB Last Updated 2026-04-16T03:29:41Z


Suasana hangat menyelimuti Joglo Girli, Pengasih, pada Sabtu (4/4/2026). Di bawah naungan atap kayu yang ikonik, sekitar 60 lintas generasi aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berkumpul dalam agenda bertajuk
"Halal Bihalal Trah IMM Kulon Progo & Perayaan Milad IMM ke-62". Acara ini bukan sekadar seremoni perayaan milad. Ia adalah ruang temu kangen sekaligus sumur inspirasi, di mana para perintis dan penerus PC IMM Kulon Progo duduk melingkar, berbagi kisah tentang "darah dan air mata" membangun organisasi di masa lampau.

Pesan Ideologis dari Sang Senior

Pak Ari Gunawan, tokoh Forum Komunikasi Alumni (Fokal) IMM, dalam sambutannya menekankan pentingnya kembali ke akar perjuangan KH Ahmad Dahlan. Ia mengingatkan bahwa kekuatan organisasi Muhammadiyah, termasuk IMM, terletak pada tiga pilar utama: Tafahum (saling memahami), Ta’awun (saling menolong), dan Takaful (saling menanggung beban).

"Kader IMM bukan sekadar pengurus, tapi pembawa misi. Nilai-nilai Muhammadiyah harus mendarah daging, hingga berani kita transformasikan menjadi ideologi gerakan," tegas Pak Ari di hadapan para kader muda.

Dalam sesi talkshow yang dipandu moderator Immawan Daryanto, Pak Ari berbagi memori saat PC IMM Kulon Progo berada di fase "tiada menjadi ada". Beliau mengenang masa-masa ketika kampus di Wates masih berstatus Sekolah Tinggi Islam Tarbiyah (STIT). Namun, keterbatasan bukan penghalang. Di bawah kepemimpinannya, meski belum genap setahun menjabat, PC IMM Kulon Progo sudah berani mengambil tanggung jawab besar sebagai tuan rumah Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD IMM DIY. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa nyali lebih utama daripada fasilitas.

Humor dan Dinamika Lapangan

Suasana formal berubah menjadi penuh tawa saat Ahmad Aan Mukossim, mantan Ketua Umum PC IMM Kulon Progo, berbagi pengalaman uniknya di masa transisi. Ia mengenang satu momen "memalukan" saat melakukan aksi di Kantor Bupati.

"Waktu itu kami sudah siap bersuara lantang. Ternyata, data riset yang diberikan teman-teman keliru. Saat dikonfrontasi langsung oleh Bapak Bupati, teman-teman yang lain malah diam, tidak ada yang membantu menjelaskan. Rasanya ingin hilang dari tempat itu," ceritanya sambil terkekeh, disambut tawa hadirin. Pelajaran berharganya? Etika dalam berbeda pendapat dan akurasi data adalah harga mati bagi seorang aktivis.

Membangun Kader Militan yang Bahagia

Senada dengan senior lainnya, Achmad Sukriyanto menambahkan bahwa organisasi tidak selamanya harus kaku dan tegang. Baginya, IMM adalah wadah memperluas relasi, ruang bermain yang positif, dan tempat mencari kebahagiaan dalam beramal saleh.

Momentum Milad ke-62 ini ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk terus menciptakan kader yang militan di segala lini kehidupan. Melalui ajang silaturahmi ini, "Trah IMM Kulon Progo" membuktikan bahwa meski zaman berganti dan pimpinan silih berganti, semangat untuk tetap berdaya dan memberikan dampak bagi masyarakat tidak akan pernah padam.

Agenda ini resmi berakhir dengan sesi ramah tamah, mempererat simpul kekeluargaan yang nantinya diharapkan menjadi pondasi kuat bagi kemajuan PC IMM Kulon Progo di masa depan.