Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sarasehan Kampung Lele Asap Banaran: Kolaborasi Dakwah Muhammadiyah untuk Pemberdayaan Ekonomi Warga

Selasa, 07 April 2026 | 15.09 WIB Last Updated 2026-04-07T08:09:00Z


GALUR – Pedukuhan Jati, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur kini memiliki identitas baru sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis pangan. Melalui sarasehan yang digelar pada Senin (6/4), wilayah ini secara resmi diproyeksikan menjadi Kampung Lele Asap, sebuah inisiatif kolaboratif antara Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Kulon Progo dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo.

Langkah strategis ini diambil untuk mengangkat tradisi pengolahan lele asap di Pedukuhan Jati yang telah berlangsung turun-temurun. Lewat sentuhan dakwah pemberdayaan, potensi lokal ini kini diarahkan menjadi penggerak ekonomi umat yang lebih terorganisir dan berkelanjutan.

Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber penting, di antaranya dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kulon Progo serta Ketua MPM PWM DIY. Dalam pemaparannya, Agus Saifudin selaku Ketua MPM PWM DIY menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengembangkan potensi lokal. “Kampung lele asap ini bukan hanya soal produk, tetapi tentang bagaimana kita membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Muhammadiyah hadir melalui MPM untuk menggerakkan dakwah yang membumi, menyentuh langsung kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakhid, P.S., selaku Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Kulon Progo, menyoroti pentingnya peningkatan kualitas produksi dan pemasaran. “Kami melihat potensi besar dari olahan lele asap di Banaran ini. Dengan pendampingan yang tepat, baik dari sisi teknis maupun pemasaran, ini bisa menjadi produk unggulan daerah yang mampu menembus pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain PDM Kulon Progo, MPM PWM DIY, MPM PDM Kulon Progo, Dinas Pariwisata, Bagian Ekonomi Pemerintah Daerah Kulon Progo, Baperida Kulon Progo, Panewu Galur, staf khusus DPR RI Siti Herdiati, Ketua MPM PCM Galur, Ketua Desa Wisata, pengurus Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), serta para petani dan pelaku usaha pengolahan lele asap. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pengembangan potensi desa.

Ngadiran, selaku Ketua JATAM Kulon Progo sekaligus pengurus MPM PDM Kulon Progo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi dakwah Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat. “Melalui pendekatan ekonomi seperti ini, dakwah Muhammadiyah menjadi lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kita tidak hanya berbicara, tetapi juga menghadirkan solusi nyata untuk kesejahteraan umat,” ujarnya.



Hasil dari sarasehan ini menghasilkan kesepakatan penting, yaitu penetapan Pedukuhan Jati Kalurahan Banaran sebagai Kampung Lele Asap. Kesepakatan ini diharapkan menjadi titik awal pengembangan kawasan berbasis potensi lokal, baik dari sisi budidaya lele, pengolahan produk, hingga pengembangan wisata kuliner berbasis lele asap.

Dengan adanya kolaborasi antara Muhammadiyah, pemerintah, dan masyarakat, Kampung Lele Asap diharapkan mampu menjadi contoh sukses dakwah pemberdayaan yang berkelanjutan. Lebih dari sekadar kegiatan ekonomi, ini adalah wujud nyata bagaimana dakwah Muhammadiyah hadir di tengah masyarakat, menguatkan, dan memajukan kehidupan umat secara menyeluruh. (Edwin)