Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MPAI UAD dan Lazismu Kulon Progo Gelar Workshop Eco Literasi Berbasis Masjid

Minggu, 24 Mei 2026 | 23.28 WIB Last Updated 2026-05-24T16:28:20Z




WATES, persyarikatanku.comProgram Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan bersama Lazismu Kulon Progo menyelenggarakan Workshop Eco Literasi Berbasis Masjid melalui Gerakan Sedekah Sampah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad, 24 Mei 2026, bertempat di Aula PDM Kulon Progo.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Umat atau Prodamat yang dilaksanakan oleh mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan. Program ini mengangkat isu lingkungan sebagai ruang dakwah, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis masjid.

Adapun mahasiswa yang terlibat dalam program ini adalah Suyati, S.Pd., Dandi Setiadi, S.Pd., dan Syifa Rahmah Vita, S.Pd. Ketiganya berperan sebagai fasilitator kegiatan, mulai dari menggagas tema, menyusun konsep program, mempersiapkan kebutuhan teknis, membangun koordinasi dengan mitra, hingga mendampingi jalannya workshop.

Sebagai fasilitator, mahasiswa Prodamat MPAI UAD berupaya menghadirkan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penguatan literasi lingkungan di lingkungan Muhammadiyah Kulon Progo. Masjid dipilih sebagai basis kegiatan karena memiliki peran strategis sebagai pusat ibadah, pembinaan umat, dan ruang penguatan kesadaran sosial masyarakat.

Workshop ini mengusung tema “Eco Literasi Berbasis Masjid melalui Gerakan Sedekah Sampah”. Tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap pentingnya penguatan literasi lingkungan di tengah jamaah dan masyarakat Muhammadiyah Kulon Progo, khususnya dalam membangun kesadaran mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Lazismu Kulon Progo dan PDM Kulon Progo sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat gerakan pemberdayaan umat berbasis masjid. Melalui dukungan tersebut, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda workshop, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan berkelanjutan di masjid dan lingkungan Muhammadiyah Kulon Progo.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, pelantunan kalam Ilahi, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Lazismu Kulon Progo, pembimbing Prodamat, dan PDM Kulon Progo.

Kegiatan ini turut didampingi oleh Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd. selaku dosen pembimbing Prodamat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada Lazismu Kulon Progo atas diterimanya kerja sama penyelenggaraan kegiatan eco literasi berbasis masjid tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Lazismu Kulon Progo yang telah menerima kerja sama ini. Isu lingkungan merupakan isu yang sangat penting dan strategis. Menjelang 2050, persoalan lingkungan diprediksi menjadi salah satu masalah krusial yang harus direspons bersama,” ujar Dr. Azaki.

Ia menegaskan bahwa Islam adalah din wa hikmah. Ibadah dalam Islam tidak hanya dipahami dalam lingkup akidah dan ritual semata, tetapi juga mencakup ikhtiar membangun kehidupan yang baik, maslahat, dan rahmatan lil alamin. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab keislaman dan kemanusiaan.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan harapan agar kegiatan ini tidak menjadi agenda pertama dan terakhir. PDM Kulon Progo berharap ada tindak lanjut yang nyata, bahkan dapat berkembang menjadi program unggulan masjid di bidang lingkungan. Hal ini sejalan dengan peran masjid sebagai tempat penyusun peradaban dan pusat pembinaan umat.

Materi workshop disampaikan oleh Ust. Ananto Isworo, S.Ag., Founder Gerakan Shadaqah Sampah Berbasis Eco-Masjid Indonesia sekaligus Ketua LDK PWM DIY. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata persoalan teknis, tetapi terutama persoalan cara pandang. Menurutnya, perubahan mindset masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

Ust. Ananto menjelaskan bahwa sampah anorganik seperti botol plastik, kantong plastik, kaleng, aluminium, dan kertas tidak mudah terurai secara alami sehingga perlu dikelola sejak dari rumah. Ia mengajak peserta melihat sampah bukan hanya sebagai sisa buangan, melainkan sebagai potensi gerakan sosial yang dapat diolah menjadi nilai edukatif, ekologis, ekonomis, dan bernilai sedekah.

Melalui Gerakan Shadaqah Sampah, sampah anorganik dari rumah tangga, masjid, sekolah, kantor, maupun komunitas dikumpulkan di masjid dengan niat sedekah. Sampah tersebut kemudian dipilah, dijual, dan hasilnya digunakan untuk program kemanfaatan sosial, seperti santunan pendidikan, sembako, dan kesehatan bagi warga kurang mampu.

Ia juga menegaskan bahwa penyetor sampah tidak menerima uang dari sampah yang disetorkan, melainkan meniatkannya sebagai amal kebaikan. Dengan demikian, Gerakan Shadaqah Sampah membuka ruang bagi siapa pun, baik yang mampu maupun kurang mampu, untuk ikut bersedekah dan terlibat dalam dakwah lingkungan berbasis masjid.

Melalui pendekatan berbasis masjid, gerakan ini diharapkan mampu membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan Muhammadiyah Kulon Progo. Masjid dapat menjadi ruang edukasi yang dekat dengan masyarakat, sehingga pesan tentang tanggung jawab ekologis lebih mudah diterima dan dipraktikkan oleh jamaah dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta kegiatan, Harjana, menyampaikan bahwa workshop ini sangat inspiratif dan mampu membuka cara pandang baru tentang pengelolaan sampah.

“Kegiatan ini inspiratif sekali dan mampu membuka mata bahwa ternyata sampah mempunyai nilai yang bisa digunakan untuk kehidupan umat, termasuk lingkungan sekitar kita,” ungkap Harjana.

Ia berharap ke depan peserta dapat menjadi agen perubahan dalam merespons isu lingkungan, terutama dalam mengelola sampah agar bernilai bagi pemberdayaan umat.

Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, pengalaman, maupun pandangan terkait persoalan sampah di lingkungan masing-masing. Sesi ini menjadi ruang berbagi gagasan mengenai kemungkinan penerapan Gerakan Sedekah Sampah di masjid, komunitas, dan lingkungan Muhammadiyah.

Melalui kegiatan ini, MPAI UAD dan Lazismu Kulon Progo berharap gerakan eco literasi berbasis masjid tidak berhenti pada kegiatan workshop semata. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi awal lahirnya gerakan berkelanjutan dalam membangun kesadaran jamaah dan masyarakat Muhammadiyah Kulon Progo untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Gerakan Sedekah Sampah juga diharapkan mampu menjadi model pemberdayaan umat yang sederhana, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan dapat diterapkan secara bertahap di lingkungan masjid. Dengan begitu, masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat perubahan sosial dan lingkungan.