Bulan September 2026 menjadi momen penuh berkah bagi Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kulon Progo. Dua jajaran pimpinannya berhasil menembus seleksi ketat dan terpilih sebagai penerima beasiswa bergengsi dari Persyarikatan Muhammadiyah. Kedua pimpinan berprestasi tersebut adalah:
- Laila Latifah (Kabid Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PC IMM Kulon Progo)lLolos sebagai Awardee Beasiswa Kader Muhammadiyah 2026 yang diselenggarakan oleh MPKSDI PP Muhammadiyah.
- Mochammad Noor Bassam Al Fakhri
(Sekbid Hikpol KP dan LH PC IMM Kulon Progo) , terpilih sebagai Penerima
Beasiswa Sang Surya Batch 5 dari LAZISMU Wilayah DI Yogyakarta.
Beasiswa
Kader Muhammadiyah 2026 yang diusung MPKSDI PP Muhammadiyah berkolaborasi
dengan LAZISMU merupakan komitmen nyata dalam mencetak kader intelektual
berakhlak mulia. Program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan tinggi
berkualitas, baik bagi kader aktif organisasi maupun kalangan dhuafa. Tahun
ini, persaingan berlangsung sangat kompetitif. Dari sekitar 2.200 pendaftar
dari seluruh Indonesia, hanya 356 peserta yang dinyatakan lolos seleksi melalui
pengumuman surat elektronik.
Sementara proses penyerahan Beasiswa Sang Surya Batch 5 berlangsung khidmat pada Jumat, 11 September 2026, pukul 08.00 WIB di Aula PWM DIY. Acara ini dikemas dengan sesi pengajian dan motivasi. Pada periode ini, LAZISMU DIY menyalurkan dana sebesar Rp706.620.000 kepada 66 mahasiswa. Ketua LAZISMU DIY, Jefree Fahana, S.T., M.Kom., menyampaikan bahwa tren penerima beasiswa terus meningkat secara signifikan sebagai bukti tumbuhnya kepercayaan public yang mana pada batch 1 sebanyak 9 mahasiswa, batch 2 : 12 mahasiswa, batch 3: 29 mahasiswa, Batch 4: 45 mahasiswa dan batch 5: 66 mahasiswa. "Khusus penerima Beasiswa Kader, terdapat skema penugasan untuk membantu kegiatan majelis, lembaga, dan pimpinan Muhammadiyah sesuai keahlian bidang masing-masing," jelas Jefree.
Ketua
PWM DIY, Ikhwan Ahada, mengingatkan para awardee agar tidak melupakan
napas dasar perjuangan Muhammadiyah. Mengutip rekam jejak KH Ahmad Dahlan dalam
mencerdaskan kaum pribumi di era pra-kemerdekaan, Ikhwan menegaskan bahwa
pendidikan adalah instrumen untuk melayani sesama. “Sejak awal, Kiai Dahlan
mengingatkan diri bahwa Muhammadiyah didirikan untuk memikirkan orang lain,”
tegas Ikhwan.
Keberhasilan
Laila dan Bassam menjadi bukti konkret bagi kader muda lainnya bahwa aktif di
Organisasi Otonom (Ortom) seperti IMM tidak menghambat studi. Justru, ketekunan
berorganisasi membuka peluang beasiswa besar yang mempermudah jalan perkuliahan
sekaligus menempa kapasitas kepemimpinan.

