Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menjemput Peluang di Tengah Badai: Refleksi Kritis Tantangan Abad Kedua Muhammadiyah

Kamis, 10 September 2026 | 09.44 WIB Last Updated 2026-09-10T02:44:01Z


oleh : Sugiyanta, S.Pd.I. - Sekretaris MPK SDI PDM Kulon Progo (Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) angkatan 2)


Muhammadiyah telah melintasi perjalanan sejarah lebih dari satu abad sebagai pelopor pembaruan Islam dan pilar peradaban bangsa. Namun, memasuki abad kedua keberadaannya, persyarikatan tidak lagi cukup hanya berlindung di balik kejayaan masa lalu. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi organisasi kini makin kompleks, konkret, dan menuntut pembenahan mendasar.


Jika dibedah secara kritis, terdapat lima simpul tantangan utama yang saling berkelindan: sekolah, ideologi, digitalisasi, pengkaderan, dan liberalisasi. Fenomena-fenomena terkini di tingkat akar rumput menjadi alarm keras bagi warga dan pimpinan persyarikatan untuk segera bertindak.


1. Fenomena Regrouping Sekolah: Ujian Daya Saing Amal Usaha

Kabar mengenai rencana Pemerintah melakukan regrouping (penggabungan) terhadap beberapa sekolah dasar negeri menjadi gambaran nyata krisis pendidikan saat ini. Banyak sekolah kekurangan murid, bahkan ada kelas yang hanya diisi satu hingga dua siswa dengan satu guru ASN. Kondisi ini memicu ketidakefektifan anggaran negara dan berujung pada terhentinya Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena tidak memenuhi kuota minimal. Bagi pemerintah, regrouping memangkas pemborosan anggaran hingga ratusan juta rupiah.


Fenomena ini tidak hanya menimpa sekolah negeri, tetapi juga menjadi cermin bagi sekolah-sekolah swasta milik Muhammadiyah. Di satu sisi, terdapat sekolah Muhammadiyah yang berkembang pesat dan diburu masyarakat. Namun di sisi lain, tidak sedikit Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Pendidikan yang bernasib sama: krisis siswa, terancam ditutup, dan kel kelimpungan secara finansial.


Situasi ini harus dibaca sebagai peringatan sekaligus peluang strategis. Ketika sekolah negeri di-regrouping, timbul ruang kosong yang bisa direbut oleh sekolah Muhammadiyah—dengan syarat, AUM Pendidikan harus berani melakukan pembenahan tata kelola, meningkatkan mutu, serta menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki sekolah lain. Tanpa pembenahan mutu, sekolah Muhammadiyah justru akan menjadi korban berikutnya dari seleksi alam ini.


2. Badai Migrasi PPPK dan Ringkihnya Benteng Ideologi

Tantangan kedua berkaitan erat dengan stabilitas internal AUM Pendidikan. Gelombang penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang masif dan cepat telah memicu “eksodus” guru-guru Muhammadiyah ke sekolah negeri. Akibatnya, banyak sekolah Muhammadiyah mengalami kekosongan tenaga pengajar dalam waktu singkat.


Demi menjaga keberlangsungan KBM, sekolah terpaksa merekrut guru baru secara tergesa-gesa tanpa melalui seleksi ideologi yang ketat. Tak sedikit guru maupun karyawan AUM saat ini yang tidak memiliki pemahaman tentang ke-Muhammadiyah-an, bahkan berlatar belakang organisasi lain yang bertentangan dengan prinsip persyarikatan.


Padahal, guru adalah motor penggerak dan kepala sekolah adalah nahkoda pendidikan sekaligus nahkoda pengkaderan awal. Logika sederhananya: jika motor penggerak dan nahkodanya bukan seorang kader yang memahami dan mencintai ideologi Muhammadiyah, bagaimana mungkin dari tempat tersebut lahir kader-kader pelanjut masa depan? Hal ini mengancam pergeseran nilai AUM dari lembaga dakwah menjadi sekadar penyedia jasa pendidikan komersial yang kering nilai.


3. Gagap Dakwah Digital di Era "Tinggal Klik"

Generasi yang dihadapi Muhammadiyah hari ini adalah digital natives—generasi yang tumbuh dalam kultur instan. Ingin makan tinggal pesan via aplikasi, menghadapi krisis remaja tinggal mencari jawaban di media sosial, dan mencari solusi atas persoalan pribadi maupun sosial cukup dengan bertanya pada platform digital.


Sayangnya, kehadiran Muhammadiyah di ruang digital masih jauh dari kata ideal. Konten-konten digital yang diproduksi secara terstruktur dengan muatan ideologi Muhammadiyah yang renyah dan kontekstual masih sangat minim. Terdapat jurang pemisah yang lebar antara metode dakwah konvensional persyarikatan dengan cara bernalar dan berinteraksi generasi muda. Jika Muhammadiyah tidak segera mengisi ekosistem digital dengan narasi Islam Berkemajuan, maka ruang kosong tersebut akan diisi oleh paham keagamaan lain yang destruktif atau narasi sekuler yang menjauhkan anak muda dari nilai agama.


4. Ancaman Liberalisasi dan Meredupnya Estafet Kepemimpinan

Mata rantai dari persoalan sekolah, krisis ideologi guru, dan ketidaksiapan digital tersebut bermuara pada satu hal: penurunan kualitas dan kuantitas kader.


Pola hidup digital yang tidak dibentengi ideologi kuat membentuk karakter generasi muda yang cenderung individualistis. Karakter ini sangat rentan tergerus oleh arus liberalisasi, baik liberalisasi pemikiran, sosial, maupun ekonomi. Budaya kerelawanan (voluntarism) yang menjadi fondasi awal gerakan KH. Ahmad Dahlan kini terancam terbias oleh pola pikir pragmatis dan komersial.


Apabila generasi muda Muhammadiyah tidak lagi memiliki ketahanan ideologis, maka estafet kepemimpinan Muhammadiyah di masa depan akan diisi oleh orang-orang yang kehilangan akar sejarah dan ruh perjuangan persyarikatan.


Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

Kondisi ini tidak boleh membuat warga persyarikatan berkecil hati. Sebaliknya, kesadaran akan besarnya tantangan ini harus menjadi pemicu untuk melakukan koreksi mendasar:


Konsolidasi dan Penguatan Mutu AUM: Pimpinan daerah hingga cabang harus berani merestrukturisasi sekolah-sekolah yang krisis dan memperkuat sekolah potensial agar menjadi pilihan utama masyarakat.


Standardisasi Ideologisasi Pendidik: Majelis Dikdasmen perlu membuat sistem rekruitmen dan pembinaan ideologi yang wajib diikuti oleh seluruh guru dan karyawan AUM, tanpa terkecuali.


Militansi Dakwah Digital: Muhammadiyah harus melakukan investasi serius pada riset dan produksi konten digital yang kreatif untuk menjangkau generasi muda di ruang-ruang siber.


Revitalisasi Pengkaderan Berbasis Realitas: Pengkaderan di lingkungan Ortom (IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci) harus adaptif terhadap kebutuhan pengembangan diri anak muda zaman sekarang.


Mendirikan Muhammadiyah bagi KH. Ahmad Dahlan adalah upaya menghidupkan Al-Qur'an dalam tindakan nyata (amal shaleh) yang menjawab problem zamannya. Hari ini, kewajiban kita adalah memastikan amanah besar tersebut tidak redup di tangan kita. Dengan keberanian membaca realitas, membenahi kelemahan, dan mengambil peluang di tengah perubahan, cita-cita luhur pendiri Muhammadiyah akan tetap tegak berkarisma menatap masa depan.