Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PCM Galur Gelar Studi Tiru ke Masjid Al-Falah Sragen, Pelajari Tata Kelola Masjid Modern

Sabtu, 18 Juli 2026 | 21.03 WIB Last Updated 2026-07-18T14:03:58Z

Sragen, Sabtu (18/7/2026) – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Galur melalui Majelis Tabligh PCM Galur mengadakan kegiatan studi tiru ke Masjid Al-Falah Sragen. Kegiatan ini diikuti hampir 100 peserta yang diberangkatkan menggunakan dua bus, dengan tujuan mempelajari tata kelola masjid yang profesional, makmur, dan mampu memakmurkan jamaah.


Dalam sesi pemaparan, Mas Lutfi, Imam Masjid Al-Falah Sragen, menjelaskan sejarah perkembangan Masjid Al-Falah yang sejak tahun 2016 terus melakukan pembenahan hingga menjadi salah satu masjid percontohan. Menurutnya, rata-rata pengelola masjid berusia di bawah 40 tahun sehingga mampu menghadirkan berbagai inovasi dalam pelayanan kepada jamaah.


Ia juga menjelaskan bahwa beberapa jabatan di lingkungan masjid menggunakan istilah yang lebih dekat dengan kalangan muda. Misalnya, Ketua Takmir disebut Direktur Masjid, bendahara menjadi Finance, petugas kebersihan disebut Janitor, dan beberapa jabatan lainnya disesuaikan dengan konsep manajemen modern tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman.



Mas Lutfi menyampaikan bahwa Masjid Al-Falah terus belajar dari berbagai masjid lain yang memiliki praktik baik untuk diterapkan sesuai kebutuhan. Saat ini, Masjid Al-Falah memiliki sekitar 30 orang pegawai yang menjalankan berbagai bidang pelayanan. Dalam pembinaan jamaah, imam tidak hanya bertugas memimpin salat. Setelah salat berjamaah, imam diharapkan menyapa jamaah, mengenal mereka lebih dekat, memperhatikan jamaah yang tidak hadir, serta membangun hubungan yang hangat dan penuh kepedulian.


Salah satu prinsip yang diterapkan adalah memberikan penghargaan yang layak kepada imam dan pegawai masjid. Menurut Mas Lutfi, imam yang sejahtera akan lebih fokus dalam melayani umat. Ia mencontohkan pengelolaan masjid-masjid besar di dunia Islam yang memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan para imam. Adapun sumber pembiayaannya dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing masjid melalui pengelolaan dana yang baik dan dukungan para dermawan.


Masjid Al-Falah juga mengedepankan pelayanan kepada masyarakat. Untuk keamanan, area masjid dilengkapi CCTV, di samping keyakinan bahwa setiap amal senantiasa dalam pengawasan Allah. Bagi para musafir, tersedia fasilitas yang ramah, bahkan terdapat tulisan yang mempersilakan musafir untuk beristirahat atau tidur di area masjid, sebagai bentuk pelayanan kepada para tamu Allah.


Dalam bidang pendanaan, Masjid Al-Falah mengembangkan empat sumber utama pembiayaan, yaitu:

1. Kotak infak, yang dibuka dan dihitung secara rutin, maksimal satu minggu sekali.

2. Kotak infak online, terinspirasi dari praktik sebuah masjid di Pontianak yang berhasil meningkatkan penghimpunan infak melalui sistem digital.

3. BUMM (Badan Usaha Milik Masjid), seperti usaha penyediaan layanan Wi-Fi dan peternakan atau penjualan sapi.

4. SPD (Spesialis Pembaca Doa), yaitu program silaturahmi rutin kepada para donatur. Dalam setiap kunjungan, tim menyampaikan ucapan terima kasih karena tetap menjadi jamaah dan donatur, mendoakan hajat keluarga, membawa buah tangan, serta menawarkan bantuan sesuai kebutuhan, seperti konsultasi keluarga, pencarian jodoh, maupun belajar mengaji.


Sementara itu, Ketua PCM Galur, Ismail Taufiq, menyampaikan harapannya agar studi tiru ini menjadi awal perubahan tata kelola masjid-masjid Muhammadiyah di wilayah Galur. "Semoga setelah studi tiru ini lahir masjid-masjid unggul di Galur yang tidak hanya ramai dalam ibadah, tetapi juga profesional dalam pengelolaan dan pelayanan jamaah. Kesejahteraan imam dan pegawai masjid perlu menjadi perhatian agar mereka dapat mengabdikan diri secara optimal, dengan tetap memperhatikan kemampuan dan kondisi masing-masing masjid," ujarnya.


Melalui kegiatan ini, PCM Galur berharap semangat pembelajaran dan inovasi dari Masjid Al-Falah Sragen dapat menginspirasi pengurus masjid di Galur untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga masjid benar-benar menjadi pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.