
KULON PROGO - Banyaknya persoalan kesehatan mental dan tekanan psikologis di kalangan generasi muda kerap kali berakar dari lingkungan rumah tangga yang tidak harmonis (toxic family). Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi sekaligus penceramah, Ustaz Dr. H. Khaeruddin Bashori, M.Si., dalam pengajian Hari Syiar BerMuhammadiyah pada Ahad 2 Agustus 2026 di Masjid Agung Kulon Progo.
Mengangkat tema "Keluarga Sakinah sebagai Pilar Ketahanan Bangsa", Dr. Khaeruddin menjelaskan bahwa keluarga merupakan unit terkecil yang sangat menentukan kokohnya suatu bangsa. Menurutnya, untuk membentuk rumah tangga yang tenang dan membahagiakan, prosesnya harus dimulai dari pemilihan pasangan yang tepat hingga pengelolaan konflik yang sehat.
Analogi "Rumus 1.000" Buya Hamka
Dalam menentukan kriteria pasangan, Dr. Khaeruddin mengutip hadis Nabi SAW mengenai empat pertimbangan menikah (harta, nasab, kecantikan/ketampanan, dan agama), serta memaparkan analogi "Rumus 1.000" karya Buya Hamka: Harta, keturunan, dan rupa bernilai 0. Agama bernilai angka 1. Jika seseorang memiliki paras menawan, kekayaan, dan nasab baik namun tidak memiliki agama, nilainya tetaplah nol. Sebaliknya, kehadiran faktor agama akan menjadikan nilainya 10, 100, hingga 1.000.
8 Pilar Penting Ketahanan Rumah Tangga
Guna mencegah kata sakinah (ketenangan) bergeser menjadi sikinah (pisau yang menyakiti), Dr. Khaeruddin merangkum delapan pilar utama yang wajib dilatih oleh pasangan suami istri:
Di akhir tausiyah, beliau berpesan bahwa keharmonisan rumah tangga bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat, melainkan bagaimana kedua belah pihak mau saling belajar dan berkompromi demi kebaikan bersama.
Guna mencegah kata sakinah (ketenangan) bergeser menjadi sikinah (pisau yang menyakiti), Dr. Khaeruddin merangkum delapan pilar utama yang wajib dilatih oleh pasangan suami istri:
- Komunikasi Asertif: Belajar menyampaikan isi pikiran dan perasaan secara jujur serta lugas, tanpa menggunakan bahasa yang menyakiti hati.
- Saling Menghargai (Mutual Respect): Mengedepankan prinsip timbal balik untuk saling memuliakan dan memberikan pelayanan terbaik.
- Dukungan Emosional (Emotional Support): Saling menjadi tempat curhat dan siap memberikan pendampingan saat pasangan berada di titik terendah.
- Ikatan Batin yang Kuat (Strong Bonding): Meluangkan waktu berkualitas khusus berdua (quality time) guna merawat kemesraan hingga usia senja.
- Berbagi Tanggung Jawab (Shared Responsibilities): Menyepakati pembagian peran secara solid dalam urusan domestik maupun pengasuhan anak.
- Keterampilan Solusi Konflik (Problem Solving Skill): Menyelesaikan perbedaan pendapat dengan mencari keputusan menang-menang (win-win solution).
- Transparansi & Kepercayaan (Trust): Menjaga kejujuran dalam segala hal, terutama dalam hal pencatatan dan pengelolaan keuangan keluarga.
- Kemampuan Beradaptasi (Adaptability): Siap menyesuaikan diri dengan setiap fase perubahan hidup, seperti masa pensiun atau dinamika pasca-anak dewasa.
Di akhir tausiyah, beliau berpesan bahwa keharmonisan rumah tangga bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat, melainkan bagaimana kedua belah pihak mau saling belajar dan berkompromi demi kebaikan bersama.
