SLEMAN ̶ Lembaga
Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)
Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) 2026 pada
Jum’at-Ahad (11-13/9/2026) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu
Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPV), Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Mengusung tema “Sinergi
dan Inovasi: Penguatan Kapasitas Wilayah dalam Manajemen Bencana Berbasis
Teknologi dan Kearifan Lokal”, Rakernas menjadi momentum konsolidasi nasional
untuk mengevaluasi program sekaligus merumuskan strategi penguatan gerakan
kebencanaan Muhammadiyah ke depan.
Dalam pelaksanaan Rakernas
2026, MDMC PDM Kulon Progo turut berpartisipasi bersama perwakilan MDMC dari
berbagai daerah di Indonesia. Keikutsertaan tersebut menjadi wujud komitmen
MDMC Kulon Progo dalam memperkuat peran dan kontribusi gerakan kemanusiaan
serta penanggulangan bencana di lingkungan Persyarikatan.
Pembukaan Rakernas
dihadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua LRB-MDMC PP
Muhammadiyah Budi Setiawan, serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan
Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc.
Dalam amanatnya, Haedar Nashir menekankan pentingnya membangun kehidupan dan peradaban dengan tetap menjaga kelaestarian alam. Menurutnya, kekayaan alam Indonesia merupakan anugerah yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola sumber daya alam secara baik. Haedar turut menekankan pentingnya prinsip “membangun tanpa merusak” dalam menghadapi persoalan kebencanaan. Dalam pandangannya, upaya penanggulangan bencana wajib berakar pada kesadaran manusia untuk memperlakukan alam dengan bijak. Karena itu, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk membangun ilmu pengetahuan dan sistem yang mampu memperkuat resiliensi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dalam amanatnya, Haedar
Nashir menekankan pentingnya membangun kehidupan dan peradaban dengan tetap
menjaga kelaestarian alam. Menurutnya, kekayaan alam Indonesia merupakan
anugerah yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Manusia sebagai khalifah
di muka bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola sumber daya
alam secara baik. Haedar turut menekankan pentingnya prinsip “membangun tanpa
merusak” dalam menghadapi persoalan kebencanaan. Dalam pandangannya, upaya
penanggulangan bencana wajib berakar pada kesadaran manusia untuk memperlakukan
alam dengan bijak. Karena itu, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk
membangun ilmu pengetahuan dan sistem yang mampu memperkuat resiliensi
sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Pratikno
menyampaikan apresiasi pemerintah terhadap kontribusi Muhammadiyah dalam
berbagai bidang kemanusiaan. Muhammadiyah dinilai konsisten hadir dan mengambil
peran dalam berbagai situasi yang dihadapi masyarakat dan bangsa, termasuk melalui
gerakan kebencanaan yang dijalankan oleh MDMC. Apresiasi tersebut menjadi
penguat bagi MDMC untuk terus membangun kolaborasi dengan pemerintah,
masyarakat, dan berbagai elemen lainnya dalam mewujudkan penanggulangan bencana
yang semakin efektif dan berkelanjutan.
Ketua LRB-MDMC PP
Muhammadiyah, Budi Setiawan, menyampaikan bahwa Rakenas menjadi ruang untuk
mendengar dan belajar dari berbagai praktik baik manajemen risiko bencana yang
telah dilakukan oleh masing-masing wilayah. Praktik tersebut kemudian
diharapkan dapat disinergikan menjadi program pengurangan risiko bencana yang
berkelanjutan.
Selama tiga hari
pelaksanaan, Rakernas diisi dengan berbagai agenda, mulai dari diskusi bidang,
evaluasi wilayah regional, hingga pembahasan tentang keberlanjutan organisasi. Adapun
dalam pembahasan tentang pemanfaatan teknologi, seperti sistem peringatan dini
berbasis geospasial, juga menjadi salah satu topik yang dibahas dan disesuaikan
dengan kearifan lokal masyarakat.
Bagi MDMC Kulon Progo,
keikutsertaan dalam Rakernas 2026 menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus
berjuang, memperluas jaringan, serta memperkuat kapasitas dalam menghadapi
berbagai risiko bencana. Semangat kolaborasi yang dibangun di tingkat nasional
diharapkan dapat semakin menguatkan gerakan kebencanaan Muhammadiyah di tingkat
daerah.
