Notification

×

Iklan

Iklan

MENUJU

1 Ramadhan 1448 H

8 Februari 2027 M
0 HARI
:
00 JAM
:
00 MNT
:
00 DTK

Tag Terpopuler

Muhammadiyah Menatap Masa Depan

Jumat, 11 September 2026 | 13.56 WIB Last Updated 2026-09-11T08:39:24Z


Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, telah memainkan peran krusial dalam membentuk wajah kebangsaan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga sosial keagamaan bangsa, yang mana telah berlangsung lebih dari satu abad. Kendati demikian, dunia tidak berjalan di tempat. Memasuki era disrupsi digital serta dinamika global yang kian kompleks, Muhammadiyah dihadapkan pada ujian zaman dengan tuntutan relevansi maupun adaptasi tanpa hilangnya jati diri. 


Bagaimana Muhammadiyah memandang masa depan di tengah badai perubahan ini?

Masa depan membawa sekeranjang tantangan struktural dan kultural yang harus dijawab dengan tangkas oleh Muhammadiyah.


Digitalisasi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga cara umat beragama mengonsumsi informasi keagamaan. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dan "ustaz algoritma" di media sosial menantang Muhammadiyah untuk merumuskan dakwah digital yang lebih interaktif, inklusif, dan memikat generasi muda. Menjaga agar nilai-nilai Al-Ma'un tetap beresonansi di hati generasi muda yang lebih individualis dan global adalah tantangan besar. 


Muhammadiyah perlu memastikan bahwa lembaga pendidikannya tidak hanya mencetak lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Masalah global seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan geopolitik menuntut Muhammadiyah untuk memperluas cakupan dakwahnya (dakwah kosmopolitan) demi kemanusiaan universal

 

Menghadapi tantangan masa depan dan menyiapkan generasi penerus yang kuat secara mental, ekonomi, dan spiritual adalah perintah agama. Allah SWT berfirman :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝٩

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka..." (QS. An-Nisa: 9)

Selain itu, tantangan perubahan zaman menuntut Muhammadiyah untuk terus berinovasi dalam berdakwah secara bijak, sesuai dengan QS. An-Nahl: 125:

اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ۝١٢٥

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik..."

 

Dalam melangkah ke depan, Muhammadiyah juga harus jujur mengakui beberapa kerikil dalam sepatu yang dapat memperlambat gerak organisasi. Sebagai organisasi besar dengan ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti sekolah dan rumah sakit, Muhammadiyah terkadang terjebak dalam ritme birokrasi yang lambat. Kecepatan dalam mengambil keputusan sering kali kalah dengan dinamika zaman yang menuntut aksi instan. 


Ada kekhawatiran bahwa sebagian lembaga pendidikan atau kesehatan Muhammadiyah terjebak dalam arus kapitalisasi, sehingga melupakan khitah awalnya untuk melayani kelompok duafa (miskin) secara terjangkau. Tarikan politik praktis kerap menjadi ujian musiman yang melelahkan. Menjaga kedekatan yang sama (equal distance) dengan semua kekuatan politik tanpa terpecah belah membutuhkan kedewasaan kepemimpinan yang luar biasa

 

Muhammadiyah didirikan di atas spirit berbuat baik tanpa pamrih ekonomi atau politik praktis. Ketika hambatan komersialisasi dan perpecahan mengancam, organisasi harus kembali pada QS. Ali 'Imran: 104 yang menjadi ayat fondasi berdirinya Muhammadiyah:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝١٠٤

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Hambatan internal berupa ego kelompok atau birokrasi yang kaku juga harus dikikis dengan semangat persatuan, sebagaimana diperingatkan dalam QS. Ali 'Imran: 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۖ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ۝١٠٣

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."


Harapan Masa Depan Internasionalisasi dan Kemandirian Bangsa


Di balik tantangan dan hambatan tersebut, Muhammadiyah menyimpan optimisme besar untuk terus menjadi pilar kemajuan bangsa dan dunia

 

Melalui konsep Islam Berkemajuan, Muhammadiyah diharapkan tidak hanya menjadi penonton di ranah global. Pendirian PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di berbagai negara dan universitas di Malaysia adalah modal awal untuk menyebarkan wajah Islam yang damai, moderat, dan berbasis ilmu pengetahuan ke panggung dunia


Harapan besar diletakkan pada kebangkitan pilar ketiga Muhammadiyah, yaitu ekonomi. Melalui optimalisasi Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) dan digitalisasi ekonomi, organisasi ini berpotensi membebaskan umat dari ketergantungan ekonomi kapitalistik. Muhammadiyah diharapkan mampu mentransformasi sekolah dan universitasnya menjadi pusat riset dan inovasi teknologi, sehingga tidak sekadar mencetak pekerja, melainkan para inovator masa depan

 

Visi "Islam Berkemajuan" dan internasionalisasi dakwah Muhammadiyah selaras dengan mandat Al-Qur'an untuk menjadi umat terbaik yang membawa rahmat bagi alam semesta (QS. Ali 'Imran: 110):

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ ۝١١٠

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..."


Harapan untuk terus membawa kemajuan ini juga didasarkan pada karakter umat Islam sebagai umat yang moderat dan menjadi saksi di tengah peradaban dunia, sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 143:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۗ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ۝١٤٣

 "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) 'umat pertengahan' (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia..."

 

Masa depan bagi Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebuah ruang yang harus diwarnai. Dengan modal sosial yang kuat, jaringan Amal Usaha yang menggurita, dan komitmen pada Islam Berkemajuan, Muhammadiyah juga memiliki formula lengkap untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Serta melompati setiap hambatan bersandar pada dalil-dalil Al-Qur'an, kompas spiritual yang jelas, semangat tajdid dalam hadis nabi, menjaga persatuan, dan menjadi umat terbaik (khairu ummah). Sehingga radikalisme kebaikan dalam Teologi Al-Ma'un dapat diwujudkan dengan  masyarakat Islam yang sebenar-benarnya

  

Penulis:

Sudalmini, S.Pd.Si

SMK Muhammadiyah 1 Lendah

Mahasiswa SIM 9Sekolah Ideologi Muhammadiyah) #2

Tahun 2026