Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, telah memainkan peran krusial dalam membentuk wajah kebangsaan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga sosial keagamaan bangsa, yang mana telah berlangsung lebih dari satu abad. Kendati demikian, dunia tidak berjalan di tempat. Memasuki era disrupsi digital serta dinamika global yang kian kompleks, Muhammadiyah dihadapkan pada ujian zaman dengan tuntutan relevansi maupun adaptasi tanpa hilangnya jati diri.
Bagaimana
Muhammadiyah memandang masa depan di tengah badai perubahan ini?
Masa depan
membawa sekeranjang tantangan struktural dan kultural yang harus dijawab dengan
tangkas oleh Muhammadiyah.
Digitalisasi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga cara umat beragama mengonsumsi informasi keagamaan. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dan "ustaz algoritma" di media sosial menantang Muhammadiyah untuk merumuskan dakwah digital yang lebih interaktif, inklusif, dan memikat generasi muda. Menjaga agar nilai-nilai Al-Ma'un tetap beresonansi di hati generasi muda yang lebih individualis dan global adalah tantangan besar.
Muhammadiyah perlu
memastikan bahwa lembaga pendidikannya tidak hanya mencetak lulusan yang pintar
secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Masalah global seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan geopolitik
menuntut Muhammadiyah untuk memperluas cakupan dakwahnya (dakwah kosmopolitan)
demi kemanusiaan universal
Menghadapi tantangan masa depan dan menyiapkan generasi penerus yang kuat secara mental, ekonomi, dan spiritual adalah perintah agama. Allah SWT berfirman :
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ٩
"Dan hendaklah takut (kepada
Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di
belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka..." (QS.
An-Nisa: 9)
Selain itu, tantangan perubahan zaman menuntut Muhammadiyah untuk terus berinovasi dalam berdakwah secara bijak, sesuai dengan QS. An-Nahl: 125:
اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ١٢٥
"Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka
dengan cara yang baik..."
Dalam melangkah ke depan, Muhammadiyah juga harus jujur mengakui beberapa kerikil dalam sepatu yang dapat memperlambat gerak organisasi. Sebagai organisasi besar dengan ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti sekolah dan rumah sakit, Muhammadiyah terkadang terjebak dalam ritme birokrasi yang lambat. Kecepatan dalam mengambil keputusan sering kali kalah dengan dinamika zaman yang menuntut aksi instan.
Ada
kekhawatiran bahwa sebagian lembaga pendidikan atau kesehatan Muhammadiyah
terjebak dalam arus kapitalisasi, sehingga melupakan khitah awalnya untuk
melayani kelompok duafa (miskin) secara terjangkau. Tarikan politik praktis kerap menjadi ujian musiman yang melelahkan.
Menjaga kedekatan yang sama (equal distance) dengan semua kekuatan
politik tanpa terpecah belah membutuhkan kedewasaan kepemimpinan yang luar
biasa
Muhammadiyah didirikan di atas spirit berbuat baik tanpa pamrih ekonomi atau politik praktis. Ketika hambatan komersialisasi dan perpecahan mengancam, organisasi harus kembali pada QS. Ali 'Imran: 104 yang menjadi ayat fondasi berdirinya Muhammadiyah:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ١٠٤
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Hambatan internal berupa ego kelompok atau birokrasi yang kaku juga harus dikikis dengan semangat persatuan, sebagaimana diperingatkan dalam QS. Ali 'Imran: 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۖ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ١٠٣
"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."
Harapan Masa Depan Internasionalisasi dan Kemandirian Bangsa
Di balik
tantangan dan hambatan tersebut, Muhammadiyah menyimpan optimisme besar untuk
terus menjadi pilar kemajuan bangsa dan dunia
Melalui konsep Islam Berkemajuan, Muhammadiyah
diharapkan tidak hanya menjadi penonton di ranah global. Pendirian PCIM
(Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di berbagai negara dan universitas di
Malaysia adalah modal awal untuk menyebarkan wajah Islam yang damai, moderat,
dan berbasis ilmu pengetahuan ke panggung dunia
Harapan besar diletakkan pada kebangkitan pilar ketiga Muhammadiyah, yaitu ekonomi. Melalui optimalisasi Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) dan digitalisasi ekonomi, organisasi ini berpotensi membebaskan umat dari ketergantungan ekonomi kapitalistik. Muhammadiyah diharapkan mampu mentransformasi sekolah dan universitasnya menjadi pusat riset dan inovasi teknologi, sehingga tidak sekadar mencetak pekerja, melainkan para inovator masa depan
Visi "Islam Berkemajuan" dan internasionalisasi dakwah Muhammadiyah selaras dengan mandat Al-Qur'an untuk menjadi umat terbaik yang membawa rahmat bagi alam semesta (QS. Ali 'Imran: 110):
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ ١١٠
"Kamu (umat Islam) adalah umat
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..."
Harapan untuk terus membawa kemajuan ini juga didasarkan pada karakter umat Islam sebagai umat yang moderat dan menjadi saksi di tengah peradaban dunia, sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 143:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۗ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ١٤٣
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) 'umat pertengahan' (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia..."
Masa depan bagi Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang
harus ditakuti, melainkan sebuah ruang yang harus diwarnai. Dengan modal sosial
yang kuat, jaringan Amal Usaha yang menggurita, dan komitmen pada Islam
Berkemajuan, Muhammadiyah juga memiliki
formula lengkap untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Serta melompati
setiap hambatan bersandar pada dalil-dalil Al-Qur'an, kompas spiritual yang jelas, semangat tajdid dalam hadis nabi,
menjaga persatuan, dan menjadi umat terbaik (khairu ummah). Sehingga radikalisme kebaikan dalam Teologi Al-Ma'un dapat diwujudkan dengan masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya
Penulis:
Sudalmini, S.Pd.Si
SMK Muhammadiyah 1 Lendah
Mahasiswa SIM 9Sekolah Ideologi Muhammadiyah) #2
Tahun 2026
