Notification

×

Iklan

Iklan

MENUJU

1 Ramadhan 1448 H

8 Februari 2027 M
0 HARI
:
00 JAM
:
00 MNT
:
00 DTK

Tag Terpopuler

Khutbah Jumat: Kisah Utsman bin Affan: Menyambut Isyarat Kematian dengan Amal Saleh

Kamis, 29 Oktober 2026 | 08.52 WIB Last Updated 2026-10-29T01:55:15Z

Edisi: 57/KMM MT PDM KULON PROGO
19 Jumadil Awal 1448 / 30 Oktober 2026

Khutbah Jumat: Kisah Utsman bin Affan: Menyambut Isyarat Kematian dengan Amal Saleh

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita persiapkan perjumpaan dengan Allah dengan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah. Sebelum ajal tiba, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita memperbaiki shalat, menunaikan amanah, meminta maaf kepada orang yang kita dzalimi, dan menyelesaikan hak-hak sesama manusia dan berbagai pertanyaan lainnya.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan masa depan di dunia, tetapi melupakan kehidupan yang pasti akan kita hadapi setelah kematian.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita mengambil pelajaran dari kehidupan sahabat Rasulullah ﷺ, Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu, khalifah ketiga kaum muslimin, yang dikenal karena kedermawanan, rasa malu, dan kedekatannya dengan Al-Qur’an. Dalam kitab Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah, terdapat riwayat dari Nafi‘, dari Ibnu ‘Umar, tentang mimpi Utsman menjelang hari terbunuhnya.

عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ عُثْمَانَ أَصْبَحَ يُحَدِّثُ النَّاسَ، قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ: "يَا عُثْمَانُ، أَفْطِرْ عِنْدَنَا"، فَأَصْبَحَ صَائِمًا، وَقُتِلَ مِنْ يَوْمِهِ.

"Dari Nafi‘, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Utsman pada pagi hari berbicara kepada orang-orang. Ia berkata, “Aku melihat Rasulullah ﷺ dalam mimpi tadi malam. Beliau bersabda, ‘Wahai Utsman, berbukalah bersama kami.’” Kemudian Utsman menjalani pagi itu dalam keadaan berpuasa dan terbunuh pada hari itu."

Jamaah Jumat rahimakumullah, berikut kronologis singkat pembunuhan Utsman bin Affan:

Beliau adalah khalifah ketiga setelah Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma. Beliau memerintah selama 12 tahun. Selama pemerintahannya, 6 tahun awal berjalan tenang dan 6 tahun sisanya bergejolak, muncul berbagai fitnah. Gejolak tersebut timbul dari pihak provokator yang tidak menyukai Islam, yang kemudian menghasut penduduk Mesir, Kufah dan Basrah. Beberapa hasutannya diantaranya menyebutkan bahwa Utsman dalam masa pemerintahannya telah melakukan korupsi, nepotisme dan kedzaliman. Para pemberontak mengepung rumah beliau selama 40 hari. Para sahabat seperti Ali, Thalhah, Zubair dan lainnya radhiyallahu 'anhum menyuruh anak-anak mereka berjaga di rumah Utsman. Utsman tetap bersabar dan melarang para sahabat berperang untuk membelanya, demi menghindari perang saudara. Malam sebelum terbunuh, Utsman bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Ketiganya telah mendahului Utsman. Dalam mimpinya Utsman diajak berbuka puasa yang mengisyaratkan dekatnya kematiannya. Di hari ke-40 pengepungan, beliau berpuasa, duduk di dalam rumahnya membaca Al-Qur’an. Sebagian pemberontak berhasil memanjat dinding rumah dan masuk. Mereka langsung menyerang Utsman dalam keadaan beliau sedang membaca mushaf. Saat itu Utsman membaca ayat:

فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Maka Allah akan mencukupimu dari (kejahatan) mereka. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 137)

Salah satu penyerang memukul kepala beliau dengan besi. Yang lain menikamnya dengan pedang. Darah Utsman menetes ke atas mushaf, tepat pada ayat yang sedang dibacanya. Istri beliau, Nailah binti Al-Farafisah, mencoba menghalangi hingga jarinya terpotong oleh pedang mereka. Para pemberontak melarikan diri setelah membunuh beliau.

Jamaah Jumat rahimakumullah, kisah ini membawa kita kepada beberapa pelajaran penting di antaranya:

Pertama: kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari.

Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّما تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فازَ وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُورِ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kematian tidak memandang usia, jabatan, kekayaan, atau kedudukan seseorang. Utsman adalah seorang khalifah, tetapi kekuasaannya tidak membuatnya terhindar dari kematian. Kita pun demikian. Ada orang yang pagi hari masih bekerja, bercanda, dan menyusun rencana, tetapi sore harinya telah meninggalkan dunia. Ada pula yang membuat rencana bertahun-tahun, tetapi tidak sempat menyelesaikannya. Karena itu, hendaklah kita tidak menunda taubat, shalat, meminta maaf, mengembalikan hak orang lain dan hal-hal penting lainnya.

Kedua: Allah memberi isyarat bahwa setiap orang akan semakin mendekat kepada ajalnya

Allah berfirman:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (yang semula). Maka apakah mereka tidak mengerti?” (QS. Yasin: 68)

Ketika manusia menua, kekuatan fisik dan kemampuan tubuh semakin melemah ditandai dengan rambut semakin memutih, kulit semakin keriput, dan daya ingat menurun, itu semua adalah isyarat bahwa seseorang semakin dekat perjumpaannya dengan Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Ketiga: kekuatan iman tampak ketika seseorang menghadapi keadaan yang sangat berat.

Di masa -masa fitnah yang berat ini, keimanan Utsman tampak dari cara beliau menyikapi permasalahan. Beliau lebih mengutamakan keselamatan kaum muslimin secara umum dibandingkan keselamatan pribadinya atau kelanggengan kekuasaannya.

Keempat: Husnul khatimah dijemput dengan amal saleh

Utsman di saat akhir kehidupannya mengajarkan beberapa kunci husnul khatimah:

1. Sabar dan tawakal dalam menghadapi fitnah dan cobaan hidup
2. Menahan diri dari kedzaliman
3. Memperbanyak ibadah di akhir hayat. Beliau meninggal dalam keadaan berpuasa dan membaca Al-Qur'an

Kelima: Mimpi yang benar datangnya dari Allah

Rasulullah ﷺ bersabda: “

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

"Mimpi yang benar (ru'ya shalihah) adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa mimpi itu dibagi menjadi 3 jenis:

1. Ru’ya shalihah (mimpi yang benar): mimpi yang baik dan benar, bersumber dari Allah.
2. Hulm: mimpi buruk dari setan.
3. Bunga tidur: mimpi dari pikiran sendiri (refleksi aktivitas atau kegelisahan jiwa).

Pada ru'ya shalihah di dalamnya terkandung isyarat berupa kabar gembira, peringatan, atau isyarat ilahiah. Ini yang dialami oleh Utsman pada kisah tadi.

Jamaah Jumat rahimakumullah, kenapa mimpi yang benar disebut 1/46 bagian kenabian?

Diantara ulama ada yang menjelaskan beberapa makna angka 1/46, sebagai berikut: Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu selama 23 tahun. Sebelum wahyu turun, Nabi ﷺ diberi mimpi-mimpi benar selama 6 bulan. Berdasar hitungan, 6 bulan = 1/2 tahun, di mana 1/2 tahun tersebut dari total 23 tahun adalah1/46. Wallahu a’lam

Meskipun disebut “bagian dari kenabian”, ini bukan berarti orang yang bermimpi benar adalah nabi. Maksudnya adalah bahwa mimpi yang benar merupakan sisa dari jenis wahyu kenabian yang masih bisa terjadi kepada umat Islam setelah pintu kenabian ditutup.

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita ambil pelajaran dari setiap kisah kehidupan. Janganlah kita terlena oleh kehidupan dunia. Harta, jabatan, dan kesehatan adalah nikmat dan amanat yang harus digunakan untuk ketaqwaan. Semoga setiap tanda dekatnya kita kepada perjumpaan Allah bisa kita sadari dengan benar sehingga kita mempersiapkannya dengan bekal yang sebaik-baiknya. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang selalu mengingat-Nya, memperbaiki amal, dan mengakhiri kehidupan dalam keadaan beriman. Amin....

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ فَسَادٍ وَظُلْمٍ، وَارْزُقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ الَّتِي تَدُلُّهُمْ عَلَى الْخَيْرِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا أَوَاخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ، وَارْحَمْنَا عِنْدَ الْمَوْتِ، وَاغْفِرْ لَنَا بَعْدَ الْمَوْتِ.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا غَيْرَ غَضْبَانَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.