
Edisi: 56/KMM MT PDM KULON PROGO
12 Jumadil Awal 1448 / 23 Oktober 2026
Khutbah Jumat: Shalat Istisqa': Ikhtiar Langit yang Harus Diimbangi dengan Ikhtiar Bumi
إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, takwa dalam arti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa yang tidak hanya tercermin di dalam ibadah yang bersifat ritual saja, tetapi juga dalam aktivitas kerja, dalam pengelolaan harta, dalam penggunaan kewenangan, dan dalam sikap kita terhadap bumi serta seluruh makhluk yang berada di atasnya.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak kita untuk merenungi firman Allah tentang sembilan pelaku kerusakan di zaman Nabi Saleh 'alaihissalam, yang kisahnya menjadi cerminan bagi kerusakan di zaman modern. Kemudian khatib menguraikan beberapa poin yang menjadi renungan bersama, yaitu:
Pertama: Kerusakan yang dilakukan oleh kalangan berpengaruh
Allah Ta'ala berfirman:
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
“Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.” (QS. An-Naml: 48)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa sembilan orang ini adalah para pemuka, tokoh-tokoh terpandang dan berpengaruh di kaum Tsamud. Merekalah yang mempelopori penyembelihan unta mukjizat Nabi Saleh alaihissalam dan merencanakan pembunuhan terhadap beliau. Tujuan yang mereka kehendaki adalah ingin mempertahankan dominasi kekuasaan mereka di tengah-tengah kaumnya.
Ayat ini mengajarkan dua hal:
- Mereka melakukan kerusakan di muka bumi (يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ)
- Mereka tidak melakukan perbaikan sama sekali (وَلَا يُصْلِحُونَ)
Kerusakan besar di muka bumi sering kali bukan berasal dari rakyat kecil, melainkan dari mereka yang memiliki kekuasaan, modal, dan kemampuan menggerakkan orang lain. Satu orang membuang sampah itu merusak, tetapi satu keputusan yang salah yaitu membuka ribuan hektar kawasan hutan secara melawan hukum dapat menghilangkan sumber air, habitat satwa, dan meningkatkan risiko banjir serta kebakaran yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, amar ma'ruf nahi munkar dalam masalah lingkungan tidak boleh hanya diarahkan kepada masyarakat bawah, tetapi juga harus menyentuh tanggung jawab para pemilik keputusan.
Kedua: Keuntungan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kerusakan bumi
Ketika hutan rusak, ketika gambut dikeringkan lalu terbakar, asapnya tidak berhenti di pagar perusahaan. Yang menanggung adalah anak-anak, orang tua, petani, dan masyarakat yang bahkan tidak pernah menikmati keuntungan dari proyek tersebut.
Kita tidak mengatakan semua usaha perkebunan itu buruk. Sawit adalah sumber nafkah bagi jutaan petani dan pekerja. Usaha yang legal, dikelola bertanggung jawab, menghormati hak masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan adalah bagian dari kemaslahatan. Namun apabila kawasan lindung dirusak, izin dimanipulasi, masyarakat dirugikan, dan pembakaran dibiarkan demi keuntungan, maka dalih pertumbuhan ekonomi tidak dapat membenarkan perbuatan tersebut. Islam membolehkan kekayaan, tetapi Islam mengharamkan kedzaliman.
Ketiga: Padang rumput, air, dan api adalah hak bersama
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ
“Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Daud)
Para ulama menjelaskan, hadits ini menunjukkan bahwa sumber daya alam yang menjadi hajat hidup orang banyak, seperti sumber air, hutan sebagai padang gembalaan dan penyangga kehidupan, serta energi, tidak boleh dimonopoli dan dirusak untuk kepentingan segelintir orang.
Hutan, air, dan lahan bukan milik mutlak satu generasi. Ketika sumber air masyarakat mengering karena kawasan penyangga dirusak, ketika masyarakat adat kehilangan akses atas tanahnya, maka di sana telah terjadi pelanggaran terhadap prinsip hak bersama ini. Mengelola alam secara adil adalah bagian dari menjaga amanah kepemilikan bersama.
Keempat: Ketika modal, kekuasaan, dan kepentingan bertemu
Allah melanjutkan kisah sembilan orang tersebut:
قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
“Mereka berkata, ‘Bersumpahlah kamu dengan nama Allah bahwa kita pasti akan menyerang dia dan keluarganya pada malam hari. Kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya bahwa kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sesungguhnya kita benar.’” (QS. An-Naml: 49)
Mereka tidak hanya merencanakan kejahatan besar, tetapi juga merencanakan cara menutupi kejahatan tersebut dengan sumpah palsu. Mereka ingin menjadikan yang salah terlihat benar dan sebaliknya. Semua perangkat dikerahkan demi tercapainya tujuan mereka.
Inilah yang paling berbahaya, yaitu kerusakan menjadi sistemik ketika ada persekongkolan antara pemilik modal, pelaku usaha, dan oknum yang menyalahgunakan wewenang. Ketika perizinan dimanipulasi, pengawasan diabaikan, dan pelanggaran ditutup-tutupi, maka persoalannya bukan sekadar bisnis semata, melainkan pengkhianatan amanah.
Kelima: Mari kita sempurnakan ikhtiar langit dengan ikhtiar bumi
Jamaah rahimakumullah, ketika musim kemarau panjang, kekeringan, dan kabut asap terjadi, kita melihat sebagian kaum muslimin melaksanakan shalat Istisqa' untuk memohon hujan kepada Allah. Ini adalah amalan yang agung, sunnah Nabi kita ﷺ. Semoga Allah mengabulkan setiap doa hamba-hamba-Nya yang memohon dengan tulus.
Namun, sebagai bentuk muhasabah bersama, alangkah indah jika ikhtiar langit berupa doa dan shalat Istisqa' tersebut, kita sempurnakan juga dengan ikhtiar bumi berupa perawatan alam.
Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan usaha. Kita berdoa meminta kesembuhan kepada Allah, dan bersamaan itu kita juga berobat. Kita berdoa meminta rezeki, dan bersamaan itu kita juga bekerja.
Memang kerusakan alam tidak selalu menjadi penyebab utama kemarau panjang. Akan tetapi keduanya tetap memiliki hubungan yang erat melalui siklus air, kelembapan tanah, penguapan, dan pembentukan hujan.
Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنزلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kalian mengambil pelajaran.” (QS. Al-A'raf: 57)
Ayat ini menunjukkan bahwa hujan diturunkan Allah melalui sistem alam yang telah Dia tetapkan dengan sangat rapi. Ada angin, ada awan, ada hutan yang menjaga kelembaban, ada pegunungan dan pepohonan yang menjadi penahan air.
Ketika hutan-hutan penyangga digunduli secara arogan, ketika gambut dikeringkan, ketika daerah resapan air diubah menjadi lahan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, maka jangan heran jika siklus itu terganggu. Air tidak lagi meresap, hujan tidak lagi tertahan, yang datang justru banjir di musim hujan dan kekeringan ekstrem di musim kemarau.
Jamaah rahimakumullah, jadi intinya istisqa' memiliki dua sisi:
- 1. Sisi langit (hablun minallah): Kita tunduk, bertaubat, dan memohon ampun kepada Allah. Karena dosa dan kedzaliman bisa menjadi sebab tertahannya hujan, sebagaimana maksiat dan kecurangan dapat menghalangi turunnya keberkahan.
- Sisi bumi (hablun minal 'alam dan hablun minannas): Kita memperbaiki amal kita dan menjauhi dosa-dosa. Kita memperbaiki apa yang telah kita rusak. Kita menjaga maslahat manusia dan binatang-binatang di alam. Menjaga hutan, memulihkan lahan gambut yang rusak, menjaga sumber air, tidak membakar hutan demi keuntungan sesaat, dan menegakkan aturan lingkungan dengan adil.
Jamaah rahimakumullah, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Segala nikmat yang dulu ada, ketika sekarang lenyap disebabkan oleh ulah manusia sendiri.
Setelah kita beristighfar dan melaksanakan shalat Istisqa', mari kita lanjutkan dengan amal nyata. Jika kita pejabat, berikan izin dengan memperhatikan amdal dan daya dukung lingkungan. Jika kita pengusaha, kelola lahan dengan tidak melanggar hukum dan sisihkan keuntungan untuk pemulihan lingkungan. Jika kita masyarakat, jangan ikut membakar, ikut menjaga mata air, dan tanam kembali apa yang bisa kita tanam. Dengan begitu, insya Allah doa kita meminta hujan sejalan dengan ikhtiar kita merawat bumi, sehingga iklim dapat kembali berjalan normal atas izin Allah.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, sebagai penutup, marilah kita renungkan firman Allah Ta'ala:
فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40)
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya) (QS. An-Nazi'at: 37-40)
Ayat ini menjadi timbangan bagi kita semua. Siapa yang melampaui batas dengan mendzalimi rakyat, memanipulasi izin, merusak bumi demi keuntungan pribadi, membela kedzaliman karena sedikit keuntungan dan lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat, maka ancamannya adalah neraka Jahim. Namun siapa yang takut akan kedudukan Rabb-nya kemudian menyadari bahwa kelak akan ditanya tentang amanahnya, lalu ia menahan dirinya dari hawa nafsu untuk mengeruk keuntungan dengan cara yang dzalim, maka surgalah tempat kembalinya.
Pilihan ada pada kita. Apakah kita ingin menjadi bagian dari perusak bumi, atau penjaga amanah bumi?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang takut akan kedudukan-Nya dan semoga kita diberi kekuatan untuk bisa menahan hawa nafsu, demi keselamatan dunia dan akhirat kita. Amin....
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيحِ الْغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ فَسَادٍ وَظُلْمٍ، وَارْزُقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ الَّتِي تَدُلُّهُمْ عَلَى الْخَيْرِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ.
اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْنَا وَاغْفِرْ لَنَا، وَوَفِّقْنَا لِلْقِيَامِ بِأَمَانَةِ عِمَارَةِ الأَرْضِ وَعَدَمِ الإِفْسَادِ فِيهَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.