Notification

×

Iklan

Iklan

MENUJU

1 Ramadhan 1448 H

8 Februari 2027 M
0 HARI
:
00 JAM
:
00 MNT
:
00 DTK

Tag Terpopuler

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Serukan Salat Istisqa

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20.20 WIB Last Updated 2026-10-20T13:20:49Z
ilustrasi

YOGYAKARTA – Menghadapi ancaman kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerbitkan maklumat yang menyerukan pelaksanaan Salat Istisqa, muhasabah, dan ikhtiar bersama untuk mengatasi dampak bencana.

Seruan tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.1/E/2026 tentang Seruan Pelaksanaan Salat Istisqā’, Muhasabah, dan Ikhtiar Bersama Menghadapi Kemarau Panjang serta Kebakaran Hutan dan Lahan. Maklumat ditetapkan di Yogyakarta pada 20 Oktober 2026 dan ditandatangani Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag., serta Sekretaris M. Rofiq Muzakkir, Ph.D.

Penerbitan maklumat ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap penurunan curah hujan yang menyebabkan menyusutnya sumber air dan kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian. Pada saat yang sama, karhutla memicu kabut asap yang mengancam kesehatan masyarakat, mengganggu aktivitas pendidikan, menekan perekonomian warga, serta merusak kelestarian lingkungan.

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengingatkan bahwa bencana kekeringan menjadi momentum untuk melakukan muhasabah dan mengevaluasi tanggung jawab manusia dalam menjaga alam. Pesan ini sejalan dengan Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia, serta Surah Nuh ayat 10–12 yang menekankan pentingnya istigfar sebagai bagian dari ikhtiar memohon ampunan dan keberkahan Allah SWT.

Secara fikih, tuntunan pelaksanaan Salat Istisqa merujuk pada Putusan Muktamar Tarjih di Garut tahun 1976 dan Fatwa Tarjih yang dimuat dalam Suara Muhammadiyah Nomor 5 Tahun ke-84/1999.

Dalam maklumat tersebut, Muhammadiyah menyampaikan sembilan seruan penting yang tidak hanya menekankan ikhtiar spiritual, tetapi juga kepedulian sosial, perlindungan kesehatan, dan tanggung jawab pemerintah dalam menangani bencana.

Berikut sembilan poin seruan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah:
  1. Penyelenggaraan Salat Istisqā’ Berjamaah: Warga Muhammadiyah, khususnya di daerah terdampak kekeringan dan karhutla, diserukan menyelenggarakan salat Istisqā’ berjamaah di tanah lapang.
  2. Alternatif Permohonan Hujan: Bagi jamaah yang belum dapat melaksanakan salat di tanah lapang, doa memohon hujan dapat disipkan dalam khutbah Jumat, doa bersama di masjid, atau doa perorangan. Doa bersama dipimpin oleh seorang imam dan diaminkan jamaah (tidak dilantunkan bersamaan secara paduan suara).
  3. Empati Antardaerah: Daerah yang telah memperoleh hujan dianjurkan tetap mendoakan saudara-saudara di wilayah lain yang masih dilanda kekeringan dan kabut asap.
  4. Penguatan Spiritual: Sebelum dan sesudah Istisqā’, umat Islam diimbau memperbanyak istigfar, bertoubat, meninggalkan maksiat, menyelesaikan hak sesama, serta memperbanyak sedekah.
  5. Muhasabah dan Ekologi: Kemarau panjang menjadi momentum muhasabah atas amanah kekhalifahan dalam menjaga alam, sebagaimana dituntunkan dalam buku Teologi Lingkungan, Fikih Air, dan Fikih Kebencanaan karya Muhammadiyah.
  6. Dukungan Kebijakan dan Penegakan Hukum: Menghimbau pemerintah dan pemangku kebijakan memperkuat penanganan karhutla, menegakkan hukum secara adil terhadap pelaku pembakaran lahan, serta menjamin ketersediaan air bersih dan layanan kesehatan.
  7. Prinsip Ḥifẓ al-Nafs (Pemeliharaan Jiwa): Pada daerah dengan kualitas udara buruk akibat asap, masyarakat dianjurkan memakai masker. Anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan dapat berdoa dari rumah. Salat Istisqā' juga dapat dipindahkan ke masjid atau diganti dengan doa.
  8. Prasangka Baik dan Pengulangan: Apabila hujan belum turun, pelaksanaan Istisqā’ dapat diulang pada hari lain dengan tetap berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah SWT.
  9. Ketaatan Saat Hujan dan Kewaspadaan Banjir: Saat hujan turun, umat diajarkan membaca doa Allāhumma ṣayyiban nāfi‘an. Jika hujan sangat lebat dan berpotensi bahaya, membaca doa Allāhumma ḥawālainā wa lā ‘alainā, serta tetap waspada terhadap ancaman banjir dan tanah longsor.

Maklumat selengkapnya unduh di sini


sumber: https://suaramuhammadiyah.id