Stadium General Musyawarah Cabang (Musycab) PC IMM Kulon Progo ke-XV menghadirkan ruang perenungan dengan tema "Merawat Perkaderan, Membumikan Pergerakan". Pemateri Immawati Iefone Shiflana Habiba, S.Pd. selaku Kabid IMMawati DPD IMM DIY 2023–2025 meletakkan fondasi berpikir tentang bagaimana seharusnya sebuah musyawarah organisasi dimaknai dan dijalankan. Musycab tidak boleh berhenti sekadar agenda pergantian pimpinan. Ia harus berdiri di atas tiga pijakan utama, pertama Refleksi dimana keberanian mengevaluasi secara jujur kekurangan perkaderan dan gerakan periode lalu. Kedua, Proyeksi berupa kejelian pimpinan dalam merumuskan arah strategis organisasi ke depan. Ketiga, Regenerasi yang memastikan estafet kepemimpinan berlanjut ke tangan kader-kader yang matang secara ideologis maupun kapasitas.
Kekuatan IMM terletak pada Trilogi organisasinya yaitu Religiusitas
(iman, akhlak, dan kajian Islam berkemajuan), Intelektualitas (kebiasaan
berpikir ilmiah, menulis, berdiskusi, dan berkarya), serta Humanitas
(advokasi, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat). Ketiganya bukanlah pilar
terpisah, melainkan kesatuan utuh yang membentuk profil kader seimbang.
Immawati Iefone, menganalogikan hubungan perkaderan dan gerakan seperti akar dan buah pada
sebuah pohon:
- Perkaderan adalah akar. Merawat perkaderan berarti menjaga nilai, sistem, dan
tradisi intelektual yang sudah baik, sekaligus membenahi bagian-bagian
yang rapuh. Ini menuntut konsistensi, mutu, dan adaptabilitas bukan
sekadar menggugurkan kewajiban membuat acara.
- Gerakan adalah buah. Membumikan pergerakan berarti meruntuhkan wacana dari
"langit" gagasan ke "tanah" realitas sosial. Ideologi
IMM baru teruji keberadaannya jika manfaatnya dirasakan langsung oleh
masyarakat yang sering terabaikan seperti mahasiswa, buruh, petani, dan
komunitas marjinal.
Akar tanpa buah menjadikan organisasi sibuk saja dan mengisolasi diri. Sebaliknya, buah tanpa akar menghasilkan kegiatan instan yang cepat layu saat diterpa tantangan. Perkaderan adalah jantung IMM. Namun, seiring perubahan zaman, kesenjangan antara idealitas dan realitas rentan membuat organisasi kehilangan arah. Mengadopsi prinsip Hamemayu Hayuning Bawono, hambatan internal yang ada harus dibaca secara kritis sebagai medan perjuangan, antara lain:
- Seremonialisme: Kegiatan yang padat agenda namun minim tindak lanjut
yang substantif.
- Keterbatasan Inklusivitas: Eksklusivitas ruang yang kurang melibatkan berbagai
elemen.
- Rendahnya Literasi Digital: Terbengkalainya media komunikasi digital organisasi.
- Perkaderan yang Terputus: Minimnya ruang belajar yang menghubungkan teori dan
gerakan nyata.
- Pragmatisme: Menurunnya ambisi ideologis akibat cara pandang serba
praktis.
Untuk menjawab hambatan ini, penguatan gerakan perlu dipandu oleh empat nilai: Cita, Cipta, Karya, dan Cinta. Gerakan IMM harus dirancang secara Terstruktur (prioritas program yang jelas dan evaluasi triwulan), Rasional (berbasis survei kebutuhan dan kajian kritis-etis), serta Berpihak (fokus pada isu riil seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, lingkungan, dan advokasi).
IMM
juga berfungsi sebagai medium untuk menanamkan kesadaran ideologis sekaligus
melahirkan kepemimpinan transformatif. Dalam perspektif Islam berkemajuan,
kepemimpinan ini berpijak pada prinsip keadilan gender. QS. Al-Hujurat ayat 13
menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan setara sebagai
hamba dan khalifah di muka bumi.
Kepemimpinan
transformatif dibangun di atas empat pilar yaitu Inspirasi, Perhatian Personal,
Stimulasi Intelektual, dan Keteladanan. Model kepemimpinan ini bertugas
menjembatani visi ideologis (religiusitas), kecakapan berpikir (intelektual),
dan kerja nyata bagi masyarakat (humanitas). Berdikari dalam kepemimpinan
berarti menjadi pribadi yang menginspirasi dan memberdayakan orang lain untuk
tumbuh bersama.
Sebagai penutup, Immawati Iefone meninggalkan sebuah pesan reflektif yang patut direnungkan oleh setiap kader: "IMM-mu hari ini memang tak sempurna, tapi mengutuknya pun tak ada guna." Pesan ini menjadi pengingat jujur bahwa ketimbang meratapi kekurangan organisasi, langkah paling bijak terus merawat akarnya dan memastikan buah gerakannya benar-benar membumi di tengah masyarakat.


