Edisi: 58/KMM MT PDM KULON PROGO
26 Jumadil Awal 1448 / 6 November 2026
Khutbah Jumat: Jadilah Pelopor Perdamaian, Jangan Menjadi Provokator Perpecahan
إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah yang dimuliakan Allah, ada fenomena yang patut kita renungkan pada zaman sekarang, yaitu sebagian orang justru menjadikan celaan kepada pihak lain, konflik, pertengkaran, dan permusuhan sebagai bahan untuk membuat konten di media sosial. Perselisihan orang lain direkam, dipotong-potong, disebarkan, kemudian dijadikan tontonan untuk memperoleh popularitas, pengikut, bahkan keuntungan finansial. Semakin panas konflik, semakin banyak yang menonton. Semakin keras saling menghina, semakin tinggi interaksi. Akhirnya, penderitaan orang lain menjadi komoditas yang menghasilkan uang. Sifat orang yang seperti ini disebutkan dalam firman Allah:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2)
"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya." (QS. Al-Humazah: 1-2)
Di zaman sekarang, sebagian konten kreator membuat celaan dan hal-hal kontroversial di media sosial, setelah itu menghitung berapa dolar uang yang masuk ke kantongnya.
Seorang muslim semestinya merasa sedih melihat saudaranya berselisih, bukan justru bergembira karena perselisihan itu mendatangkan keuntungan baginya. Lebih memprihatinkan lagi, fenomena adu domba juga terjadi di antara berbagai afiliasi, organisasi, dan kelompok keagamaan. Ada yang sengaja mengangkat kesalahan seorang ustadz, dai, kiai, atau tokoh agama dari kelompok lain untuk menyerang seluruh kelompoknya. Ada yang mencari-cari kelemahan pihak lain, kemudian membesar-besarkannya demi menjatuhkan reputasi dan memperoleh dukungan kelompok sendiri.
Ketika orang di luar kelompoknya melakukan kesalahan, kesalahan itu terus disebarkan. Namun, ketika orang dari kelompoknya sendiri melakukan kesalahan serupa, ia berusaha membela dan mencari-cari alasan pembenaran.
Selain melanggar sikap keadilan, Ini juga merupakan bentuk fanatisme jahiliyah yang dapat merusak persaudaraan.
Kebenaran tidak diukur berdasarkan siapa yang mengucapkannya, dan kesalahan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena dilakukan oleh orang yang kita kagumi.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Jamaah Jumat rahimakumullah, bagaimana sikap kita menghadapi fenomena tersebut?
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan terkait dengannya, di antaranya:
Pertama: Jangan menjadi bagian dari penyebar permusuhan.
Hal ini bisa dilakukan dengan tidak bermudah-mudahan dalam membagikan video, berita, potongan ceramah, atau pernyataan yang berpotensi memperkeruh keadaan sebelum kita mengetahui kebenaran dan konteksnya. Jangan sampai mulut dan jari-jari kita menjadi alat untuk menyebarkan kebencian dan memutus persaudaraan.
Kedua:Jangan menjadikan fanatisme kelompok sebagai ukuran kebenaran.
Kita boleh mencintai organisasi, guru, ustadz, dan kelompok kita. Namun, kecintaan itu tidak boleh membuat kita kehilangan keadilan. Jika orang yang kita kagumi melakukan kesalahan, kita tidak harus membenarkannya. Jika orang yang berbeda kelompok dengan kita menyampaikan kebenaran, kita tidak boleh menolaknya.
Ketiga: Bedakan antara mengkritik dan mengadu domba.
Kritik terhadap kesalahan, penyimpangan, dan kedzaliman tetap diperlukan. Islam tidak mengajarkan kita untuk menutupi kesalahan terkait dengan ilmu atau menutupi suatu permasalahan demi menjaga citra seseorang atau kelompok yang jika tidak dibuka akan menyebabkan banyak orang tersesat atau dirugikan. Namun, kritik harus didasarkan pada kebenaran, keadilan, niat perbaikan, dan cara yang bertanggung jawab. Kritik bukan diniatkan untuk mempermalukan, mencari keuntungan untuk mengecilkan kelompok lain agar kelompok sendiri terlihat lebih unggul, atau membangkitkan kebencian antar sesama muslim.
Keempat: Jadilah orang yang mendamaikan, bukan memperkeruh keadaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
“Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang lebih utama daripada derajat puasa, salat, dan sedekah?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Mendamaikan hubungan antar sesama. Sebab, rusaknya hubungan antar sesama adalah pencukur.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Disebut pencukur karena kerusakan hubungan dapat mencukur agama seseorang. Maka, jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi lisan dan tulisan kita justru merusak persaudaraan. Jangan sampai kita merasa sedang membela agama, padahal yang kita bela hanyalah fanatisme kelompok.
Kelima: Meluruskan niat karena Allah Azza wa Jalla.
Hal yang paling penting dari empat poin tadi adalah membersamainya dengan niat ikhlas lillahi ta'ala. Orang yang mendamaikan manusia dan melakukan perbaikan hendaknya tidak berbuat riya' atau mencari popularitas melalui upayanya. Ia tidak mencari pujian dan sanjungan manusia, serta tidak mengharapkan ucapan terima kasih mereka. Akan tetapi, ia semata-mata mengharapkan keridaan Allah Azza wa Jalla melalui amalnya.
Allah berfirman:
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْواهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ ابْتِغاءَ مَرْضاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114).
Jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita renungkan, ketika melihat dua orang berselisih, apakah kita ingin mereka berdamai atau justru semakin bermusuhan? Ketika melihat dua kelompok berbeda pendapat, apakah kita berusaha mencari titik temu atau justru menambah api permusuhan?
Jangan sampai kita menjadi orang yang mendapatkan keuntungan duniawi dari pertengkaran orang lain, sementara mereka sendiri menanggung kerugian dan permusuhan serta kehormatan mereka dijatuhkan di depan publik.
Jamaah Jumat rahimakumullah, kesalehan dan kesalahan bisa saja berkumpul dalam diri seseorang. Orang yang memiliki banyak kebaikan tidak berarti bebas dari kesalahan. Sebaliknya, orang yang melakukan kesalahan tidak berarti seluruh kebaikannya menjadi hilang. Karena itu, mari kita belajar bersikap adil, mengakui kebenaran dari siapa pun datangnya, dan memperbaiki kesalahan tanpa harus merendahkan martabat orang lain.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa permusuhan dapat menjadi penghalang ampunan Allah, sebagaimana sabdanya:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Kemudian setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun akan diampuni, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan: Tundalah ampunan bagi kedua orang ini sampai mereka berdamai, tundalah ampunan bagi kedua orang ini sampai mereka berdamai, tundalah ampunan bagi kedua orang ini sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim).
Marilah kita memperbaiki hubungan dengan sesama. Jangan menunggu sampai ajal mendekat untuk meminta maaf. Jangan menunggu sampai persaudaraan benar-benar hancur untuk memulai perdamaian. Jangan sampai kita menjadi pihak yang mengadu domba karena ancamannya adalah tidak masuk surga sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ dan jangan pula menjadi pihak pencela yang ancamanya adalah kecelakaan yang besar (neraka).
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang saleh dan muslih, yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيحِ الْغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ فَسَادٍ وَظُلْمٍ، وَارْزُقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ الَّتِي تَدُلُّهُمْ عَلَى الْخَيْرِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْبَغْضَاءِ، وَأَصْلِحْ أَلْسِنَتَنَا وَأَعْمَالَنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُصْلِحِينَ لَا مِنَ الْمُفْسِدِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
