KULON
PROGO —Isu kerusakan lingkungan dan
konflik agraria di Papua Selatan kembali memicu perhatian publik. Di tengah
derasnya sorotan media sosial terkait pembatasan diskusi film dokumenter karya
Dandhy Dwi Laksono yang berjudul Pesta Babi, Pimpinan Cabang Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kulon Progo justru mengambil langkah berani
dengan menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi publik.
Agenda
yang diinisiasi oleh Bidang Hikmah, Politik, Kebijakan Publik, dan Lingkungan
Hidup (HIKPOLKP & LH) PC IMM Kulon Progo ini digelar pada Ahad, 17 Mei
2026. Bertempat di Aula PDM Lantai 3, acara yang terbuka untuk umum ini sukses
mempertemukan sekitar 81 peserta dari berbagai organisasi dan
lapisan masyarakat.
Dokumenter
Pesta Babi memotret ambisi besar pemerintah pusat dalam mengejar swasembada
pangan nasional (food estate) dan ketahanan energi. Di atas kertas,
program ini tampak menjanjikan dengan rencana pembukaan lahan masif seluas 2,5
juta hektar atau setara dengan 30 kali lipat luas Ibu Kota Jakarta.
Lahan
tersebut diproyeksikan untuk pertanian padi, serta perkebunan tebu dan singkong
guna menyokong industri bioetanol dan biodiesel. Kendati demikian, di balik
narasi ketahanan pangan tersebut, terdapat fakta-fakta lapangan yang kontras:
- Investasi Ekstrim: Proyek di
Papua Selatan (mencakup Merauke, Boven Digoel, dan Mappi) ini dilaporkan
menggunakan alat berat/traktor yang didatangkan dari Cina, dengan anggaran
dana yang menyentuh angka Rp4 triliun salah satu biaya operasional
tertinggi untuk proyek sejenis.
- Aktor Pengelola: Pengelolaan
proyek agraria skala besar ini di antaranya melibatkan lini bisnis milik
pengusaha nasional Haji Isam melalui jaringan perusahaannya.
- Nilai Ganti Rugi Rendah: Di beberapa wilayah terdampak, tanah adat dilaporkan hanya dihargai sekitar Rp300.000 per hektar, sebuah angka yang dinilai tidak sebanding dengan hilangnya ruang hidup masyarakat asli.
Alih-alih
membawa kesejahteraan, percepatan pembangunan ini dinilai memicu deforestasi
masif yang merusak tatanan sosial dan ekologi suku-suku di Papua bagian
selatan.
1. Hilangnya Ruang Hidup dan Ketimpangan Kerja
Pembabatan
hutan membuat masyarakat kehilangan area berburu, hewan-hewan kehilangan
habitat, dan sumber air bersih kian menyusut. Ironisnya, alih fungsi lahan
menjadi sawah di beberapa titik justru telantar akibat minimnya ekosistem
pendukung seperti pupuk, obat-obatan, dan alat pertanian yang terjangkau.
Selain itu, korporasi yang masuk dinilai lebih banyak mendatangkan tenaga kerja
dari luar Papua (khususnya Jawa), sehingga warga lokal tetap terjebak dalam
pengangguran.
2. Isu Hak Asasi dan Trauma Keamanan
Kehadiran
personel militer yang masif di sekitar proyek alih-alih memberikan rasa aman,
justru memicu ketakutan dan trauma mendalam yang mengakar sejak operasi militer
masa lalu (seperti peristiwa di Koka tahun 1962 dan Manokwari tahun 1965).
Kelompok rentan seperti kaum perempuan menjadi pihak yang paling terdampak;
konflik horizontal antar-suku yang dipicu perebutan ruang hidup menyulitkan
akses kesehatan, termasuk kasus ibu hamil yang terpaksa harus ditandu di tengah
situasi konflik demi bisa melahirkan.
3. Salib Merah: Simbol Perlawanan Terakhir
Masyarakat
adat merasa dikhianati oleh institusi lokal, termasuk pihak gereja yang dinilai
cenderung pro-pemerintah. Seringkali, alat-alat berat datang merampas tanah mereka
tanpa adanya konfirmasi atau sosialisasi terlebih dahulu.
Sebagai
bentuk protes dan keputusasaan, warga membentangkan Salib Merah di
sepanjang perbatasan wilayah mereka. Tercatat ada sekitar 1.800 salib merah
yang dibuat dalam 10 tahun terakhir sebuah angka tertinggi yang menjadi simbol
perlawanan sakral agar proyek tidak melangkahi batas tanah adat. Sayangnya,
tanda tersebut kerap kali diabaikan oleh pihak korporasi.
Menolak Sudut Pandang Kolonial
Diskusi
pasca-penayangan film di Kulon Progo ini menyimpulkan bahwa pemaksaan proyek food
estate di Papua merupakan bentuk langgengnya cara pandang kolonial.
Pemerintah kerap memosisikan diri sebagai Messiah (juru selamat) yang
membawa peradaban kepada masyarakat lokal yang dianggap
"terbelakang," tanpa memedulikan kearifan lokal dan keberlanjutan
lingkungan hidup.
Melalui
ruang-ruang diskusi alternatif seperti yang dibuka oleh PC IMM Kulon Progo ini,
generasi muda diajak untuk kritis melihat bahwa pembangunan nasional tidak
boleh mengorbankan hak-hak dasar manusia dan kelestarian alam atas nama
pertumbuhan ekonomi. Ingat Papua adalah bagian Indonesia, kita jangan hanya fokus pada palestina tapi pada saudara kita yang sedang mengalami
ketidakadilan di negeri ibu pertiwi ini.


