Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Refleksi Tahun Baru 1448 H, Haedar Nashir Ajak Umat Islam Bangun Kemandirian Ekonomi dan Politik

Selasa, 16 Juni 2026 | 09.55 WIB Last Updated 2026-06-16T06:38:03Z

 

Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya memaknai esensi hijrah. Menurutnya, perayaan pergantian tahun tidak boleh sekadar menjadi aktivitas syiar yang bersifat seremonial dan simbolik semata, melainkan harus dijadikan momentum muhasabah serta refleksi untuk membangun kekuatan umat Islam di berbagai bidang kehidupan.

Haedar menegaskan bahwa esensi utama dari hijrah adalah perubahan ke arah yang lebih baik secara kolektif. Mencontoh perjuangan Nabi Muhammad SAW yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya tauhid, umat Islam masa kini dituntut untuk melakukan transformasi nyata agar keluar dari ketertinggalan.

Soroti Kelemahan Ekonomi dan Ketergantungan Politik
Dalam refleksinya, Haedar menyoroti kondisi umat Islam baik di tingkat global maupun nasional yang dinilai masih belum mandiri secara politik dan ekonomi. Ia mencontohkan bagaimana negara-negara di Timur Tengah yang relatif kuat secara finansial, namun secara politik masih belum mandiri karena berada di bawah hegemoni global, sehingga tidak mampu membendung agresi terhadap Palestina.

Sementara di Indonesia, meski berstatus sebagai mayoritas secara kuantitas, umat Islam secara ekonomi dan politik dinilai masih lemah sehingga belum memiliki daya tawar (bargaining power) yang tinggi.

"Masih menjadi pemandangan umum bahwa umat Islam, jika ingin membangun masjid, sekolah, madrasah, pesantren, dan keperluan berat lainnya, maka yang sering dilakukan ialah meminta kepada pihak lain dalam beragam bentuk yang menunjukkan ketergantungan," ujar Haedar dengan nada prihatin.

Dorong Penguasaan Bisnis Skala Besar dan Strategis
Sebagai solusi dari tantangan tersebut, Haedar menyerukan gerakan membangun kemandirian umat, terutama di bidang ekonomi. Ia mengimbau agar umat Islam menyudahi perdebatan atau kontroversi yang kontraproduktif mengenai aktivitas bisnis berskala besar. Umat Islam tidak boleh antipati terhadap dunia usaha dan wirausaha.

"Jangan menolak bisnis berskala besar dan strategis hanya karena terdapat praktik-praktik pihak lain yang kotor dan merusak. Umat Islam mesti berbisnis yang halalan thayyibah, mengikuti regulasi, dan didukung profesionalitas tinggi," tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar sektor ekonomi strategis seperti industri perkebunan, pertambangan, hingga teknologi informasi mulai digarap oleh umat Islam secara amanah dan profesional, guna memberikan contoh pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.

Kemandirian Bukan Berarti Eksklusif
Kendati menekankan kemandirian, otonomi, dan independensi, Haedar mengingatkan bahwa hal tersebut bukan berarti umat Islam harus hidup eksklusif, menyendiri, atau konfrontatif. Kemandirian justru harus meniscayakan kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai golongan lain demi membangun tatanan kehidupan yang baik sesuai prinsip ta'awun (tolong-menolong).

Di akhir pidatonya, Haedar berharap momentum Tahun Baru Hijriah 1448 H ini dapat mengantarkan umat Islam Indonesia menjadi Khairah Ummah (umat terbaik) yang mampu menyebarkan misi Islam Rahmatan lil 'Alamin serta mewujudkan bangsa yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.