.jpg)
GIRIMULYO - Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kulon Progo menyelenggarakan kegiatan Panen Raya Kopi bersama kelompok tani binaan di Dusun Prangkokan, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Sabtu (18/7).
Kegiatan yang berlangsung di kebun kopi milik Sukijo—salah satu petani binaan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM)—ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta. Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan PDM Kulon Progo H. Juremi, Ketua MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY Agus Syaifudin, Ketua JATAM DIY Lukman Johan, Ketua MPM PDM Kulon Progo Wakhid PS, Ketua JATAM Kulon Progo Ngadiran, jajaran pimpinan PCM dan PRM Girimulyo, Lurah Purwosari, serta warga Muhammadiyah setempat.
Panen raya ini menjadi bagian dari rangkaian Rapat Rutin Triwulan MPM PWM dan MPM PDM se-DIY. Selain memanen hasil perkebunan, agenda ini juga diisi dengan edukasi teknik sambung tanaman kopi unggul—metode budidaya yang menghasilkan pohon berpostur pendek namun berbuah lebat—serta promosi cita rasa khas kopi Pegunungan Menoreh.
Pemanfaatan Tanah Wakaf dan Tantangan Pascapanen
Ketua MPM PDM Kulon Progo, Wakhid PS, menyampaikan bahwa komoditas kopi kini menjadi andalan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Girimulyo dalam mengoptimalisasi produktivitas tanah-tanah wakaf. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan mulai dari penyiapan lahan, penyediaan bibit, teknik sambung, hingga perizinan usaha dan pemasaran.
"Pendampingan ini bertujuan memandirikan warga secara ekonomi. Namun, kami mencatat tantangan utama petani saat ini ada pada fase pascapanen. Tanpa mesin pemilah (grader) dan penggiling (grinder) milik sendiri, petani masih bergantung pada jasa pihak ketiga dan cenderung menjual hasil panen berupa biji mentah (green bean) dengan nilai tawar yang lebih rendah," ujar Wakhid.
Komitmen Kolaborasi Lintas Sektor
Menanggapi hal tersebut, MPM PWM DIY menyepakati komitmen bersama untuk mendorong percepatan modernisasi alat pengolahan kopi di Prangkokan. MPM akan menggandeng berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) guna menyediakannya sarana pengolahan pascapanen yang memadai.
Melalui langkah strategis ini, Kopi Prangkokan diharapkan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk biji mentah, melainkan mampu diproduksi secara mandiri hingga menjadi produk kopi bubuk kemasan berkualitas tinggi khas Pegunungan Menoreh.
Tentang Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah:
Majelis Pemberdayaan Masyarakat merupakan unsur pembantu pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah yang berfokus pada pendampingan, penguatan kapasitas, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat kecil, petani, nelayan, serta kelompok marginal.
.jpg)
