Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Shalat Sunnah Rawatib Apa Saja?

Selasa, 11 Agustus 2026 | 17.30 WIB Last Updated 2026-08-11T10:30:00Z

Pertanyaan:

Ada dua versi dalam mengerjakan shalat sunah rawatib Yang pertama: dua rakaat sebelum dan dua rakaat sesudah zuhur, dua rakaat sebelum asar, dua rakaat sebelum dan dua rakaat sesudah magrib, dua rakaat sebelum dan dua rakaat sesudah isya. Yang kedua: dua rakaat sebelum dan dua rakaat sesudah zuhur, dua rakaat sebelum magrib, dua rakaat sesudah isya dan dua rakaat sebelum subuh.

Penanya: Eet Hudawati, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu


Jawaban:

Dalam memahami hadis-hadis Nabi saw. tentang shalat sunah rawatib, para ulama membaginya kepada mu ‘akkad dan ghairu mu’akkad. Dalam menetapkan mana yang termasuk mu’akkad dan mana yang termasuk ghairu mu’akkad para ulama berbeda pendapat.

Shalat sunah rawatib mu ‘akkad terdiri atas dua atau empat rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah shalat magrib, dua rakaat setelah shalat isya dan dua rakaat sebelum shalat subuh. Semuanya ada sepuluh atau dua belas rakaat. Dasarnya ialah hadis-hadis sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكَعَتَيْن بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ [رواه البخاري].

“Dari Ibnu Umar, [diriwayatkan] ia berkata: Aku ingat dari Nabi saw. sepuluh rakaat; dua rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat magrib di rumahnya, dua rakaat sesudah shalat isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum shalat subuh” [HR al-Bukhari].

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ [رواه البخاري وأبو داود]. وَرَوَى عَنْهَا أَيْضًا عِنْدَ مَا سُئِلَتْ عَنْ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّطَوُّعِ قَالَتْ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا فِي بَيْتِي ثُمَّ يَخْرُجُ فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى بَيْتِي فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَكَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ الْمَغْرِبَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى بَيْتِي فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمُ الْعِشَاءَ ثُمَّ يَدْخُلُ بَيْتِي فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ.

“Dari ‘Aisyah, [diriwayatkan] bahwasanya Nabi saw. tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat sebelum shalat subuh” [HR al-Bukhari dan Abu Dawud]. “Dari ‘Aisyah, [diriwayatkan pula] ketika ditanya tentang sebagian shalat sunah Nabi saw, ia berkata: Beliau shalat sebelum zuhur empat rakaat di rumahku kemudian pergi (shalat berjamaah di masjid), lalu beliau salat magrib dengan orang banyak (di masjid) lalu kembali kembali ke rumahku dan shalat dua rakaat, kemudian beliau ke rumahku dan shalat dua rakaat, kemudian beliau shalat isya berjamaah (di masjid) lalu masuk rumahku dan shalat dua rakaat”

Dari hadis riwayat Aisyah tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah saw. mengerjakan shalat sunah rawatib di rumah beliau, bukan di masjid. Tentu saja perbuatan Rasulullah saw. itu lebih utama, namun tidak menutup kemungkinan untuk mengerjakan shalat sunah rawatib di masjid. Pada riwayat lain dinyatakan:

عَنْ أُمَّ حَبِيبَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتُ فِي الْجَنَّةِ [رواه مسلم].

“Dari Ummi Habibah, [diriwayatkan] ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang shalat (sunah rawatib) dua belas rakaat dalam sehari semalam, niscaya dibuatkan bagi mereka sebuah rumah di surga” [HR Muslim].

Yang termasuk shalat sunah rawatib ghairu mu’akkad ialah:

a. Empat rakaat sebelum shalat asar, berdasarkan hadis:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَ صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا [رواه أحمد وأبو داود والترمذي وحسنه وابن حبان وصححه.

“Dari Ibnu Umar, [diriwayatkan dari Nabi saw.. beliau bersabda: Allah memberi rahmat kepada orang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat asar” [HR Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudzi, dan dinyatakan sebagai hadis hasan, sedangkan Ibnu Hibban menyatakannya sahih].

b. Dua rakaat sebelum shalat magrib, berdasarkan hadis:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْمُغَفَّل أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً [رواه البخاري].

“Dari Abdullah bin al-Mughaffal, [diriwayatkan] bahwasanya Nabi saw, bersabda: Shalatlah kamu sebelum magrib, shalatlah kamu sebelum magrib, bersabda pada kali yang ketiga: bagi siapa yang suka. (Ibnu Mughaffal berkata) beliau mengatakan demikian karena beliau khawatir dipandang orang sebagai sunah mu’akkad” [HR al-Bukhari].

c. Empat rakaat setelah shalat isya, berdasarkan hadis:

عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَبِي أَوْفَى أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا سُئِلَتْ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّي الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى أَهْلِهِ فَيَرْكَعُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ وَيَنَامُ [رواه أبو داود].

“Dari Zurarah bin Abi Aufa, [diriwayatkan bahwasanya Aisyah ditanya tentang shalat Rasulullah saw. pada malam hari, ia berkata: Rasulullah saw. shalat isya berjamaah kemudian kembali kepada keluarganya, lalu shalat empat rakaat, kemudian pergi ke tempat tidur dan tidur” [HR. Abu Dawud].

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa ada shalat sunah rawatib yang lain, sesuai dengan penilaian mereka terhadap hadis-hadis yang mereka jadikan sebagai dasar hujah. Adapun di dalam Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, dinyatakan bahwa shalat sunah rawatib itu terdiri atas: dua rakaat sebelum subuh, dua atau empat rakaat sebelum dan sesudah zuhur, dua rakaat sebelum asar, dua rakaat sebelum dan sesudah magrib, dan dua atau empat rakaat sesudah isya (Lihat Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah Cetakan III, Kitab Shalat-shalat Tathawwu’, tentang Shalat Rawatib, halaman 319-320, beserta dalil-dalilnya halaman 328-332).

SM, No. 17 tahun ke-90/2005
Tanya Jawab Agama 9, hlm. 108-112