KULON PROGO – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. H.M. Riduwan, S.Ag., M.Ag., memberikan tausiyah yang segar dan inspiratif dalam pengajian rutin Hari Syiar Bermuhammadiyah (HSB) yang diselenggerakan pada 6 September 2026 di Masjid Agung Wates, Kabupaten Kulon Progo.
Mengangkat tema besar "Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM): Etika dalam Berbisnis dan Mengembangkan Profesi", Dr. Riduwan membumikan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam persoalan keseharian yang sangat dekat dengan realitas masyarakat.
Konsep "Thayyib" yang Subjektif
Dalam pemaparannya, Dr. Riduwan menegaskan bahwa dalam urusan konsumsi, umat Islam tidak boleh hanya berhenti pada batasan halal, tetapi juga harus memperhatikan aspek thayyib (baik bagi tubuh). Menurutnya, konsep thayyib memiliki sifat yang sangat subjektif dan sangat bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu.
Sebagai contoh, beliau menyinggung kegemaran masyarakat terhadap buah durian. Bagi mereka yang sehat, durian bisa menjadi makanan yang thayyib. Namun, bagi jamaah lanjut usia atau yang memiliki riwayat darah tinggi dan kolesterol, durian jelas menjadi tidak thayyib. Beliau mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan diri melanggar pantangan kesehatan hanya dengan dalih "mumpung gratis", "mumpung ada", atau sekadar "mumpung pasangan sedang tidak tahu".
Adab dan Etika Menasihati Pasangan
Selain urusan konsumsi, Dr. Riduwan juga menyoroti pentingnya etika komunikasi dalam rumah tangga sebagai bagian dari pedoman hidup Islami. Melalui cerita yang jenaka dan memancing tawa jamaah, beliau mengisahkan seorang suami yang baru saja sembuh dari sakit dan keluar dari rumah sakit.
Dalam kisah tersebut, sang suami nekat memesan es teh manis di sebuah warung. Melihat hal itu, sang istri sontak memarahinya habis-habisan di tempat umum. Akibatnya, sang suami merasa sangat tersinggung, minumannya tidak jadi diminum, dan malam harinya ia kembali dilarikan ke rumah sakit. Secara berkelakar, Dr. Riduwan menyebut bahwa sang suami jatuh sakit kembali bukan karena minum es teh, melainkan karena syok mendapat "pidato" teguran dari istrinya di tempat umum.
Membangun Karakter Muslim yang Kaffah
Kisah tersebut menjadi pengingat penting bahwa niat baik harus disampaikan dengan cara yang baik pula. Dr. Riduwan berpesan bahwa menegur anggota keluarga yang melanggar pantangan adalah tindakan yang benar, namun etika penyampaiannya harus tetap dijaga. Nasihat sebaiknya disampaikan dengan tutur kata yang lembut dan dibicarakan secara privat di rumah, bukan dengan memarahi di hadapan banyak orang.
Di akhir tausiyahnya, Dr. Riduwan menekankan bahwa seluruh tata nilai kehidupan—mulai dari cara menjaga kesehatan tubuh, berbisnis, hingga berinteraksi dalam rumah tangga—merupakan wujud nyata dari pengamalan PHIWM. Implementasi dari hal-hal yang tampaknya sederhana ini diharapkan mampu membentuk jamaah menjadi muslim yang kaffah (menyeluruh) yang kelak menghantarkan pada rida dan surga Allah SWT. (heri)
