Edisi: 49/KMM MT PDM KULON PROGO
22 Rabiul Awal 1448 / 4 September 2026
Khutbah Jumat: Tipu Daya Kekuasaan Dzalim
الحَمْدُللهِ، ثُمَّ الحَمْدُ اللهِ، وَلَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَى اللهِ، لَهُ مِنَ الحَمْدِ أَسْمَاهُ، وَلَهُ مِنَ الشُّكْرِ أَسْنَاهُ، وَلَهُ مِنَ الثَّنَاءِ الحَسَنِ أَعْلَاهُ وَمُنْتَهَاهُ، سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَجَلَّ فِي عُلَاهُ، لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَاهُ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَاهُ، وَلَا تُحْصَى نِعَمُهُ، وَلَا تُكَافِئُ عَطَايَاهُ، إِنِ الحُكْمُ إِلَّا لِله أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ [يُوسُفَ: ٤٠]
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ، أَمَّنْ يُجِيبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأَرْضِ أَإِلٰهٌ مَعَ اللهِ [النَّمْلِ: ٦٢]
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَمُصْطَفَاهُ، وَخَلِيلُهُ وَمُجْتَبَاهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَاتَّبَعَ هُدَاهُ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
أمَّا بعدُ فاتقوا اللهَ عبادَ اللهِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [الأحزاب: 70].
Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah ﷻ menceritakan kepada kita kisah dua manusia yang menjadi simbol dua macam fitnah besar dalam kehidupan manusia yaitu Fir‘aun dengan kekuasaannya, dan Qarun dengan hartanya. Keduanya berbeda. Fir‘aun memiliki kekuasaan, sedangkan Qarun memiliki kekayaan. Meskipun berbeda dari satu sisi, keduanya mempunyai persamaan dari sisi yang lain yaitu keduanya tertipu oleh apa yang mereka miliki, lalu menggunakan apa yang mereka miliki untuk menyesatkan dan merendahkan manusia.
Fir‘aun dalam memperdaya dan membodohi kaumnya, tidak hanya menggunakan kekuatan, tetapi juga menggunakan propaganda dan manipulasi pikiran. Allah menggambarkan perkataan Fir‘aun:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
“Maka Fir‘aun mempengaruhi dan memperdaya kaumnya, lalu mereka menaatinya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 54)
Fir'aun membolak-balikkan fakta sebenarnya dan menuduh Nabi Musa sebagai pemecah belah persatuan dan perusak tatanan kehidupan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الأرْضِ الْفَسَادَ
"Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya), "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS. Ghafir: 26)
Fir'aun secara sadar sebenarnya tahu bahwa Musa yang benar, tapi kesombongan dan kedzaliman yang mendominasi diri membuat hati terkunci mati.
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
"Dan mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. An-Naml: 14)
Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah kemudian memberikan kepada kita contoh lain yaitu Qarun.
Allah berfirman:
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash: 76)
Inilah tipu daya kedua, yaitu harta yang membuat manusia merasa bahwa keberhasilannya semata-mata karena dirinya sendiri. Dengannya orang kemudian bersandar total, karena merasa bahwa harta bisa membeli segalanya. Seseorang merasa aman, karena dengan harta ia bisa mendekati penguasa lalu berkolaborasi dengannya untuk semakin memperkaya diri. Dengannya ia merasa bisa kebal hukum.
Tipu daya Qarun banyak mempengaruhi sebagian masyarakat. Mereka menjadi terobsesi dengan harta yang dimiliki Qarun. Ini sebagaimana difirmankan Allah:
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Alangkah inginnya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’" (QS. Al-Qashash: 79)
Pada akhirnya Allah menunjukkan kesudahannya:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)." (QS. Al-Qashash: 81)
Jamaah Jumat rahimakumullah, dalam hal kekuasaan, Al-Qur’an tidak hanya menceritakan Fir‘aun. Di samping Fir‘aun terdapat tokoh lain yaitu Haman. Allah berfirman:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلأ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Fir‘aun berkata, ‘Wahai para pembesar, aku tidak mengetahui ada tuhan bagi kalian selain aku. Maka bakarlah untukku, wahai Haman, batu bata, lalu buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku dapat melihat Tuhan Musa. Sesungguhnya aku benar-benar mengira bahwa dia termasuk orang-orang yang berdusta.’” (QS. Al-Qashash: 38)
Fir‘aun tidak bekerja sendirian. Ada orang-orang di sekelilingnya yang melaksanakan perintahnya. Ada orang yang mengendalikan kekuasaan, mengurus administrasi, membangun proyeknya dan orang yang secara khusus menyebarkan propaganda.
Haman adalah gambaran tentang manusia yang menggunakan kemampuan dan kedudukannya untuk membantu penguasa dzalim dalam menjalankan kedzalimannya. Penguasa dzalim membutuhkan tangan untuk melaksanakan kebijakannya. Kedzaliman tidak selalu berdiri sendiri. Seringkali ia berdiri karena ada orang-orang yang berkata: “Saya hanya menjalankan perintah.”. Kedzaliman juga berdiri karena tertipunya sebagian manusia dari kedzaliman yang samar. Kedzaliman juga berdiri karena diamnya orang yang seharusnya melakukan nahi mungkar.
Jamaah Jumat rahimakumullah, kita tahu bahwa penguasa memiliki kekuatan tangan. Tetapi kekuatan tersebut terkadang belum cukup. Ia membutuhkan pembenaran. Di sinilah bahayanya orang berilmu apabila ilmunya digunakan untuk membela kebatilan karena sedikit sogokan duniawi berupa harta dan kedudukan.
Ulama yang ikhlas tidak menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mendapatkan kedudukan dan keuntungan duniawi. Ia tidak mengatakan halal hanya karena penguasa ingin melakukannya. Ia tidak mengatakan sesuatu yang dzalim menjadi sesuatu yang adil hanya karena pelakunya memiliki kekuasaan. Ilmu adalah amanah. Orang yang berilmu tidak boleh menjadikan ilmunya sebagai alat untuk menyembunyikan kebenaran atau membungkus kebatilan dengan penyelewengan dalil agama.
Jamaah Jumat rahimakumullah, jika kita renungkan kisah Fir‘aun, kita akan melihat sebuah pola: Fir‘aun membutuhkan kekuasaan, Haman membantu menjalankan kekuasaan itu, lalu para pembesar mendukungnya dengan tugasnya masing-masing. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ
“Kami menjadikan mereka pemimpin-pemimpin yang mengajak kepada neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Qashash: 41)
Adalah sebuah bahaya besar ketika struktur kekuasaan, kemampuan, ilmu, harta, dan pengaruh semuanya dipakai untuk satu tujuan yaitu mempertahankan kebatilan.
Dalam membaca kisah Firaun di Al-Qur'an hendaklah kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada diri kita sendiri, di antaranya yaitu:
1. "Apakah justru saya adalah Firaun itu?"
2. “Apakah saya pernah menjadi Haman bagi seseorang?”
3. "Apakah kita pernah membantu kedzaliman karena takut kehilangan jabatan?"
4. "Apakah kita pernah membenarkan sesuatu yang kita tahu salah demi memperoleh secuil bagian dari kekuasaan dan harta?"
5. Apakah kita pernah menggunakan ilmu untuk membela syahwat pribadi di atas kepentingan agama?"
6. "Apakah kita pernah diam ketika orang lain didzalimi atau justru merasa senang karena kita mendapatkan keuntungan dari keadaan tersebut?"
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang berani berkata benar, berbuat adil kepada siapa pun, dan tidak menjual agama demi kepentingan dunia.
Jamaah Jumat rahimakumullah, kisah Fir‘aun dan Qarun bukan sekadar cerita masa lalu. Keduanya adalah peringatan bagi setiap manusia yang memperoleh kekuasaan, harta, kedudukan, atau pengaruh; dan juga peringatan bagi siapa saja untuk melihat kebenaran sebagai kebenaran itu sendiri, bukan sebagai sesuatu yang muncul dari ketokohan seseorang (kecuali tokoh Nabi).
Kemudian Allah berfirman tentang kesudahan orang-orang sombong yang tidak mau menerima kebenaran dan kemudian melakukan kerusakan di muka bumi :
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83).
Di akhirat, tiada tempat yang mulia bagi orang-orang sombong dan dzalim karena membuat kerusakan di muka bumi. Tempat mereka adalah seburuk-buruk tempat yaitu neraka.
Ini senada dengan hadits Nabi:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رعيَّةً ، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ ، وَهُوَ غاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ ، إلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ اْلجَنَّةَ
“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk mengurus rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu (berkhianat) terhadap rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Muslim)
Kemudian Allah juga memberikan ancaman kepada orang-orang yang cenderung membela pelaku kedzaliman meskipun ia bukan bagian langsung dari kedzaliman tersebut:
وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang dzalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 113)
Jamaah Jumat rahimakumullah, seringkali kita memiliki sebagian sifat manusia yang diceritakan oleh Al- Qur'an, di antaranya ada yang memiliki sebagian sifat Fir‘aun, Qarun, Haman, dan rakyat yang ingin seperti Qarun karena tertipu keindahan dunia. Ada pula yang mewarisi sebagian sifat Nabi Musa yang memberikan peringatan dan juga sebagian sifat umat Nabi Musa yang teguh mengikuti Nabinya.
Ayyuha al-ikhwah fillah, khatib sampaikan khutbah ini murni untuk mengajak kepada ketakwaan, bukan menuduh dan menyindir pihak tertentu. Maka marilah kita bertakwa kepada Allah. Marilah kita memohon kepada Allah agar diberikan hati yang tidak tertipu oleh kekuasaan, tidak diperbudak oleh harta, tidak tergoda untuk menipu manusia dan juga tidak menjadi bodoh sehingga diperalat menjadi alat pembela kedzaliman, baik berbayar maupun gratisan.
أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِله وَكَفَى، وَصَلَاةً وَسَلَامًا عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَمُصْطَفَاهُ، وَخَلِيلُهُ وَمُجْتَبَاهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَاتَّبَعَ هُدَاهُ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ، وَكُونُوا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ، وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ [الزمر: 18].
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمُ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمُ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمُ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ َإِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا بَلَدًا آمِنًا مُبَارَكًا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا الْأَمَانَةَ وَالْعَدْلَ.
اللَّهُمَّ جَنِّبْ بَلَدَنَا الْفَسَادَ وَالْغِشَّ وَالظُّلْمَ وَالْفُرْقَةَ وَسَائِرَ أَنْوَاعِ الْفَسَادِ.
اللَّهُمَّ حَرِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْعُبُودِيَّةِ لِغَيْرِكَ، وَاجْعَلْنَا عِبَادًا لَكَ وَحْدَكَ.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمَظْلُومِينَ أَيْنَمَا كَانُوا، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ، وَأَوْقِفْ كُلَّ أَشْكَالِ الظُّلْمِ وَالاضْطِهَادِ، وَأَظْهِرِ الْحَقَّ وَأَهْلَهُ، وَأَبْطِلِ الْبَاطِلَ وَأَهْلَهُ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْك وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
