KULON PROGO — Suasana belajar yang aktif mewarnai kegiatan PASHMINA MENTARI (Menabung Kesehatan Remaja untuk Tua Mandiri) yang berlangsung di Gedung PDM Kulon Progo pada tanggal 11 Oktober 2026. Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat yang merupakan program hibah Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (PPA). Rangkaian kegiatan dirancang tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga pre-test, diskusi, post-test, serta simulasi skrining kesehatan dasar.
Sejak awal kegiatan, peserta diarahkan untuk melihat kesehatan sebagai investasi jangka panjang. Sebelum sesi edukasi dimulai, peserta mengerjakan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal tentang gaya hidup sehat, healthy ageing, penyakit tidak menular, dan faktor risiko metabolik. Hasil pre-test kemudian menjadi pembanding dengan post-test yang dilakukan setelah seluruh sesi selesai.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Ketua PDM Kulon Progo H. Alip Mulyono, S.Pd., M.S.I.. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa pembentukan perilaku sehat membutuhkan ruang belajar yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Kita berharap peserta tidak berhenti pada mengetahui apa yang sehat dan tidak sehat. Yang lebih penting adalah muncul kesadaran untuk mempraktikkan kebiasaan sehat dan membawa pesan itu ke keluarga maupun teman sebaya,” disampaikan H. Alip Mulyono.
Ketua PDNA Kulon Progo, Faizatunnisa Khoiroti, S.Pd., yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa kader remaja memiliki posisi strategis dalam memperluas pesan kesehatan.
“Remaja memiliki cara berkomunikasi sendiri. Karena itu, ketika kader sebaya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tepat, mereka dapat menjadi jembatan agar pesan kesehatan terasa lebih dekat, lebih natural, dan lebih mudah diterima oleh teman-temannya,” ujarnya.
Materi pertama disampaikan oleh Ns. Zubaida Rohmawati, S.Kep., MPH. Ia mengajak peserta memikirkan gambaran diri mereka saat memasuki usia dewasa dan lanjut usia. Dari titik itu, peserta diajak memahami bahwa kebugaran, kemandirian, kesehatan mental, dan kualitas hidup di masa depan tidak berdiri sendiri. Semuanya dipengaruhi oleh kebiasaan yang dibangun sejak usia muda, mulai dari bergerak aktif, tidur cukup, mengelola stres, menjaga kesehatan mental, memilih makanan secara bijak, hingga membangun hubungan sosial yang sehat.
Pada sesi berikutnya, Indriani, SKM., MSc., membahas faktor risiko penyakit metabolik serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini. Peserta belajar tentang status berat badan, IMT, tekanan darah, pola makan, aktivitas fisik, dan pentingnya skrining sebagai deteksi awal. Materi juga menekankan bahwa hasil skrining bukan diagnosis dan perlu ditindaklanjuti secara tepat bila ditemukan hasil yang tidak normal.
Bagian yang banyak menarik perhatian peserta adalah simulasi. Peserta berlatih mengenali alat, posisi tubuh yang benar saat pengukuran tekanan darah, menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, menghitung IMT, menghitung denyut nadi dan frekuensi napas, serta memahami prinsip dasar pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat. Dengan metode ini, peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi mencoba langsung keterampilan yang relevan dengan kegiatan kader.
Nurrahmah Awalunnisa KP, peserta sekaligus Anggota Bidang Kesehatan Lingkungan, menyampaikan bahwa praktik membuat materi terasa lebih nyata.
“Saat hanya mendengar, mungkin kita merasa sudah memahami. Tetapi ketika mencoba sendiri, ternyata ada langkah-langkah yang harus diperhatikan supaya hasil pengukuran benar. Saya merasa sesi simulasi sangat membantu untuk memahami peran kader dengan lebih konkret,” tuturnya.
Hanistiani dari PCNA Pengasih mengaku tertarik dengan hubungan antara kebiasaan saat muda dan kesehatan di masa depan.
“Saya jadi lebih sadar bahwa kesehatan tidak bisa ditunda. Hal sederhana seperti pola tidur, aktivitas fisik, makanan, dan mengelola stres ternyata saling berkaitan. Materi ini membuat saya ingin lebih memperhatikan kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Hilda Anda Risma dari PCNA Girimulyo melihat kegiatan ini sebagai bekal yang dapat diterapkan di lingkungan organisasi.
“Setelah kegiatan ini saya merasa lebih siap untuk ikut mengedukasi teman sebaya. Cara penyampaiannya mudah dipahami dan praktiknya bisa menjadi contoh kegiatan yang menarik ketika diterapkan di tingkat cabang,” ujarnya.
Setelah sesi materi dan simulasi selesai, peserta mengerjakan post-test. Evaluasi ini menjadi bagian penting untuk melihat perubahan pemahaman sekaligus mengetahui sejauh mana materi dapat diterima peserta. Kegiatan kemudian ditutup dengan penguatan komitmen agar peserta memilih setidaknya satu kebiasaan sehat yang realistis untuk mulai diterapkan.
Melalui dukungan hibah PPA dan kolaborasi UNISA Yogyakarta dengan PDNA Kulon Progo, PASHMINA MENTARI diharapkan menjadi model edukasi kesehatan remaja yang lebih partisipatif. Pengetahuan, pengalaman praktik, dan kemampuan komunikasi kader sebaya menjadi bekal penting agar pesan kesehatan dapat terus bergerak dari satu peserta kepada teman, keluarga, dan komunitas yang lebih luas.
.jpeg)